Metapos.id, Jakarta – Lionel Messi menjadi sorotan tajam sepanjang gelaran Piala Dunia 2026. Kapten Timnas Argentina itu tak hanya mendapat perhatian karena penampilannya di lapangan, tetapi juga dibanjiri kritik dan berbagai tudingan yang ramai beredar di media sosial.
Perjalanan Argentina hingga babak final disebut ikut memicu munculnya beragam narasi. Sejumlah cuplikan pertandingan, keputusan wasit, hingga insiden yang melibatkan skuad La Albiceleste tersebar luas dan memunculkan anggapan bahwa Messi mendapat perlakuan istimewa.
Gelombang kritik semakin menguat setelah Argentina gagal mempertahankan gelar juara usai kalah dari Spanyol di partai final. Berbagai kontroversi yang terjadi seusai pertandingan turut memperbesar sorotan terhadap sang megabintang.
Analis media sosial sekaligus content strategist, Rosie, menilai perubahan sentimen terhadap Messi tidak hanya dipengaruhi performanya di lapangan. Menurutnya, algoritma media sosial berperan besar dalam memperkuat penyebaran konten yang memancing emosi dan perdebatan.
Rosie menjelaskan, konten yang menggambarkan Messi secara negatif cenderung memperoleh interaksi tinggi sehingga lebih sering direkomendasikan oleh algoritma kepada pengguna lain. Kondisi tersebut membuat narasi tertentu semakin luas tersebar.
Ia juga menyebut pembentukan opini publik tidak selalu berasal dari informasi yang sepenuhnya salah. Potongan video atau cuplikan pertandingan yang diambil di luar konteks dapat membentuk persepsi berbeda ketika disebarkan secara berulang.
Selain itu, Rosie menyoroti fenomena illusory truth effect, yakni kecenderungan seseorang menganggap sebuah informasi benar karena terus-menerus melihatnya, meskipun kebenarannya belum terbukti.
Menurutnya, perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI) juga membuat produksi dan penyebaran konten dalam jumlah besar menjadi lebih cepat dan murah. Hal tersebut dinilai dapat mempercepat pembentukan opini publik melalui media sosial.







