Metapos.id, Jakarta – Pelajar Iran yang berencana melanjutkan pendidikan ke luar negeri menghadapi kendala baru setelah penyelenggaraan ujian TOEFL dan GRE dihentikan di dalam negeri akibat perubahan aturan sanksi Amerika Serikat.
Penghentian tersebut dilakukan setelah Office of Foreign Assets Control (OFAC) Departemen Keuangan AS membekukan General License G yang sebelumnya memungkinkan sejumlah layanan pendidikan tetap berlangsung di Iran.
ETS, organisasi berbasis AS yang menyelenggarakan TOEFL dan GRE, kemudian menghentikan kedua ujian tersebut di Iran.
“Setelah OFAC menangguhkan General License G, ETS segera menghentikan penyelenggaraan ujian TOEFL dan GRE di Iran,” kata organisasi tersebut dalam pemberitahuan resminya.
ETS menyatakan warga negara Iran masih dapat mengikuti kedua ujian itu di luar negeri dan pihaknya sedang mencari cara untuk kembali menyelenggarakannya di Iran.
TOEFL digunakan untuk mengukur kemampuan bahasa Inggris dan diterima berbagai universitas di dunia, sedangkan GRE menjadi salah satu persyaratan bagi sejumlah program pascasarjana, terutama di AS dan Kanada.
Penghentian ini menambah persoalan bagi pelajar Iran yang sebelumnya juga menghadapi kendala penyelenggaraan IELTS akibat masalah sanksi dalam transfer dana.
Sejumlah pelamar bahkan harus bepergian ke negara seperti Turki dan Armenia untuk mengikuti ujian, sehingga harus menanggung biaya perjalanan, akomodasi, serta biaya tes.
Alireza, pelamar universitas di Italia, mengatakan penghentian TOEFL mengganggu rencana alternatifnya setelah IELTS tidak lagi tersedia di Iran.
“Namun sekarang TOEFL juga dihentikan di Iran. Bepergian ke negara tetangga hanya untuk mengikuti ujian sangat mahal, terutama dalam kondisi ekonomi Iran saat ini,” tambahnya.
Di tengah situasi tersebut, peserta TOEFL dan GRE Iran meluncurkan petisi daring yang mendesak ETS memulihkan akses ujian.
Petisi itu menyebut ribuan mahasiswa berisiko kehilangan kesempatan masuk universitas, memperoleh beasiswa, dan mengikuti program pascasarjana karena akses terhadap tes yang dibutuhkan tiba-tiba dihentikan.
Bahar, pelamar program Doktoral, mengatakan semakin banyak mahasiswa Iran kini mengalihkan tujuan studi dari AS ke Eropa dan Australia karena persoalan visa.
“Bagi kami, sekarang pada dasarnya tidak ada perbedaan antara IELTS dan TOEFL, karena dalam kedua kasus kami harus meninggalkan Iran untuk mengikuti tes bahasa Inggris,” kata Bahar kepada DW.
Hingga kini belum ada kepastian kapan TOEFL dan GRE dapat kembali diselenggarakan di Iran, sehingga pelamar harus memilih antara menunggu tanpa kepastian atau mengeluarkan biaya lebih besar untuk mengikuti ujian di luar negeri.







