Metapos.id, Jakarta – Tradisi nonton bareng (nobar) Piala Dunia yang selama ini identik dengan suasana meriah di China mulai mengalami perubahan pada edisi 2026. Semakin banyak masyarakat memilih menikmati pertandingan dari rumah melalui perangkat digital dibanding berkumpul di tempat umum.
Perubahan tersebut dipengaruhi oleh berkembangnya layanan streaming dengan kualitas gambar yang semakin baik. Penonton kini dapat menyaksikan pertandingan melalui ponsel, tablet, maupun televisi pintar tanpa harus menghadiri acara nobar.
Selain kemudahan akses, fitur interaktif di platform digital juga menjadi daya tarik tersendiri. Pengguna dapat melihat statistik pertandingan secara langsung, berinteraksi di kolom komentar, hingga memilih berbagai sudut tayangan sesuai preferensi mereka.
Perubahan kebiasaan menonton ini turut memengaruhi penyelenggara acara nobar di berbagai kota di China. Sejumlah lokasi yang biasanya dipenuhi penggemar sepak bola dilaporkan mengalami penurunan jumlah pengunjung selama Piala Dunia 2026 berlangsung.
Di sisi lain, kebiasaan masyarakat mengonsumsi hiburan juga terus berubah. Penonton kini lebih menyukai pengalaman yang fleksibel sehingga dapat menikmati pertandingan sambil melakukan aktivitas lain di rumah atau saat bepergian.
Meski demikian, antusiasme masyarakat China terhadap Piala Dunia tidak serta-merta menurun. Minat terhadap pertandingan tetap tinggi, hanya saja cara menikmati kompetisi kini bergeser dari ruang publik menuju platform digital.
Fenomena ini menunjukkan transformasi perilaku konsumen yang semakin mengandalkan teknologi dalam mengakses hiburan. Kemudahan layanan streaming membuat pengalaman menonton menjadi lebih personal sekaligus praktis bagi banyak orang.
Perubahan tren di China menjadi gambaran bagaimana digitalisasi mengubah budaya menonton olahraga di berbagai negara. Jika sebelumnya nobar menjadi pilihan utama, kini pengalaman menonton secara individu melalui perangkat pribadi mulai mendominasi selama Piala Dunia 2026.







