Metapos.id, Jakarta – Saham SpaceX mengalami tekanan setelah laporan keuangan perdana sebagai perusahaan publik menunjukkan lonjakan belanja modal untuk pengembangan kecerdasan buatan (AI). Meski pendapatan perusahaan tumbuh kuat, investor menyoroti besarnya pengeluaran yang dinilai dapat menekan profitabilitas dalam jangka pendek.
Pada perdagangan terbaru, saham SpaceX turun sekitar 8–9 persen dan sempat berada di bawah harga IPO. Pelemahan tersebut terjadi setelah perusahaan mengungkapkan belanja modal kuartal II mencapai sekitar US$18,4 miliar yang sebagian besar dialokasikan untuk infrastruktur AI, produksi Starship, dan pengembangan satelit Starlink.
Di sisi lain, SpaceX tetap membukukan pertumbuhan bisnis yang solid sepanjang kuartal kedua 2026. Pendapatan AI perusahaan dilaporkan melonjak tiga kali lipat secara tahunan menjadi sekitar US$2,6 miliar berkat kontrak layanan komputasi awan dan infrastruktur digital.
CEO Elon Musk menegaskan investasi besar tersebut merupakan bagian dari strategi jangka panjang perusahaan. Ia meyakini infrastruktur AI yang sedang dibangun akan menjadi fondasi pertumbuhan bisnis dan mampu menghasilkan pendapatan berulang yang lebih besar pada masa mendatang.
Meski demikian, pasar masih meragukan kecepatan pengembalian investasi tersebut. Analis menilai tingginya belanja modal membuat arus kas bebas perusahaan masih berada di zona negatif sehingga menjadi perhatian utama investor.
Selain belanja AI, perhatian pasar juga tertuju pada berakhirnya masa lock-up pasca IPO yang akan membuka ratusan juta saham milik investor awal ke pasar. Kondisi tersebut diperkirakan berpotensi meningkatkan volatilitas harga saham dalam waktu dekat.
Meski saham terkoreksi, sejumlah analis masih melihat prospek jangka panjang SpaceX tetap positif karena pertumbuhan bisnis Starlink, layanan komputasi AI, serta proyek luar angkasa yang terus berkembang. Namun, perusahaan dinilai perlu menunjukkan peningkatan laba agar dapat mengembalikan kepercayaan investor.
Pergerakan saham SpaceX menjadi sorotan pasar global karena perusahaan milik Elon Musk tersebut baru melantai di bursa beberapa waktu lalu. Kinerja beberapa kuartal ke depan diperkirakan akan menjadi penentu apakah strategi investasi besar di sektor AI mampu memberikan imbal hasil sesuai ekspektasi pasar.






