Metapos.id, Jakarta — Pengusaha sound horeg Aeromax, Setyo Budi Mularso, menyampaikan permintaan maaf setelah pernyataannya yang menyebut Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Timur dengan sebutan tidak pantas menjadi viral.
Pernyataan tersebut disampaikan Setyo dalam sebuah acara televisi nasional. Saat itu, ia hadir dalam pembahasan mengenai fatwa haram sound horeg yang dikeluarkan MUI Jawa Timur.
“Saya sangat menyesal atas perkataan saya terhadap MUI Jawa Timur pada saat acara di TV One. Saya memohon maaf kepada MUI Jawa Timur, MUI Jawa Tengah, MUI pusat, dan MUI Kabupaten Karanganyar,” kata Budi dikutip dari berbagai sumber, Kamis (10/9/26).
“Saya menyesal atas perkataan saya yang saya sampaikan terhadap MUI Jawa Timur dan saya tidak akan mengulang perbuatan tersebut dan dan saya bertobat,” tambahnya.
Setyo menyebut dirinya telah menemui MUI Karanganyar untuk menyampaikan permintaan maaf. Ia juga mengatakan telah mendapatkan nasihat dari istri dan anaknya setelah pernyataan tersebut ramai diperbincangkan.
Menurut Setyo, aktivitas bisnis sound horeg yang dijalaninya juga tidak memberikan tambahan penghasilan yang terlalu besar. Ia mengaku lebih banyak menjalankan usaha tersebut karena hobi dan kegemarannya berkumpul bersama keluarga.
“Di sound ini tidak begitu efektif, dan signifikan untuk menambah pundi-pundi rezeki saya. Saya lebih ke hobi dan senang kumpul dengan saudara-saudara,” katanya.
Ketua MUI Karanganyar Badaruddin mengatakan pihaknya telah menerima permintaan maaf Setyo. Ia menyatakan telah memaafkan pernyataan tersebut dan berharap kejadian serupa tidak kembali terjadi.
“Saya sebagai orang Islam memaafkan. Dengan meminta maaf kepada MUI Jatim, MUI Jateng, dan (MUI) Indonesia termasuk (MUI) Karanganyar, sudah saya maafkan. Jangan sampai itu terulang kembali,” kata Badaruddin, saat dihubungi awak media mengutip detikcom.
Badaruddin menilai persoalan sound horeg bukan hanya berkaitan dengan hiburan. Menurut dia, penggunaan sound dengan cara tertentu dapat mengganggu ketenangan masyarakat serta berpotensi bertentangan dengan norma sosial dan keagamaan.
“Kalau sound horeg digunakan untuk pengajian, yang positif, silakan. Tapi untuk nyanyi-nyanyi itu akibatnya ada membuka aurat, kemudian tidak sopan, menimbulkan miras, itu datanya ada, sehingga mestinya berhenti,” ucapnya.
Pernyataan Setyo soal MUI Jatim
Polemik bermula ketika Setyo diminta memberikan pandangan mengenai fatwa haram sound horeg yang dikeluarkan MUI Jawa Timur.
Dalam siaran langsung tersebut, Setyo menyampaikan kritik keras terhadap MUI Jawa Timur hingga menggunakan kata “goblok”.
“MUI Jawa Timur itu bagi saya sendiri, itu sebuah kegoblokan MUI-nya sendiri. Kenapa? Karena MUI itu harusnya menjaga. Ini anak-anaknya loh. Saya tuh orang Jawa Tengah, saya menghormati. Saya menghormati dan saya cinta teman-teman Jawa Timur, tapi kegoblokannya MUI ini malah justru dipertontonkan seluruh Indonesia,” ujar Setyo.
Moderator kemudian mengingatkan Setyo agar menggunakan bahasa yang lebih sopan karena acara tersebut sedang disiarkan secara langsung di televisi nasional.
“Bisa saya minta tolong menggunakan diksi yang lebih santun karena kita sedang live di TV nasional,” tegur moderator.
Setyo selanjutnya mengatakan MUI Jawa Timur seharusnya melakukan evaluasi terhadap persoalan tersebut. Ia juga menyebut pelaku usaha sound horeg sebagai bagian dari masyarakat yang perlu mendapat perhatian.
“Iya, jadi MUI Jawa Timur ini harusnya, karena kan harusnya menata diri, kasihan toh. Itu anak-anaknya beliau juga (pelaku usaha sound horeg), bukan anak liar,” tambah Setyo.
Ketua Komisi Fatwa MUI Jawa Timur Ma’ruf Khozin kemudian diberikan kesempatan untuk memberikan tanggapan. Ia merespons pernyataan Setyo dengan tenang dan menjelaskan alasan MUI mengeluarkan fatwa terkait sound horeg.
“Kemudian, terkait dengan tuduhan kalau kami di MUI misalnya adalah dengan cara bahasa beliau tadi (digoblokan), mohon maaf, kami ini kemudian bukan masuk dengan tiba-tiba masuk, tapi ada seleksinya. Kami diambil dari organisasi Islam, tidak sembarangan orang kemudian berada di sana,” ungkap Ma’ruf,
“Kami justru, ya, justru yang kami lakukan dari MUI ini adalah menjaga. Ibarat ada seorang polisi, ya, ada di kepolisian, lalu kemudian ada orang naik motor tidak pakai helm, oleh polisi dihentikan, itu adalah bagian kecintaan dia terhadap masyarakat supaya kalau ada apa-apa dia tidak sampai terjerumus kepada hal-hal yang berat. Memang seperti biasa, bagi saya kami dituduh seperti itu biasa,” tambahnya.
Ma’ruf mengatakan dirinya tidak mempermasalahkan ucapan Setyo tersebut. Setelah acara selesai, keduanya bahkan sempat berfoto bersama.
“Ya tidak masalah, kami selalu belajar dan belajar. Setelah acara itu sudah foto bersama,” ujar Ma’ruf.







