Metapos.id, Jakarta — Kementerian Kesehatan (Kemenkes) memperbarui data korban kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi di sejumlah wilayah Indonesia.
Hingga Kamis (10/9/2026), tercatat 347 orang mengalami luka-luka dan empat orang meninggal dunia akibat bencana karhutla.
Juru Bicara Kemenkes Widyawati mengatakan data tersebut merupakan kondisi masyarakat yang terdampak karhutla per 9 September 2026.
“Kita tahu bahwa saat ini seperti diterangkan Pak Berton ada 3 bencana kita alami, ini adalah data bencana masyarakat terdampak karhutla per 9 September 2026 terdampat di Kalsel, Kalteng, Kalbar, Kaltim, Jambi, Riau, dan Sumsel,” kata WiWidyawatl, dikutip dari berbagai sumber, Jumat (11/9/26).
Berdasarkan data Kemenkes, korban terdampak tersebar di Kalimantan Selatan (Kalsel), Kalimantan Tengah (Kalteng), Kalimantan Barat (Kalbar), Kalimantan Timur (Kaltim), Jambi, Riau, dan Sumatera Selatan (Sumsel).
Widyawati menjelaskan, Kalbar menjadi salah satu wilayah dengan korban yang cukup banyak. Di daerah tersebut tercatat korban luka berat, luka ringan, hingga korban meninggal dunia serta warga yang harus mengungsi.
“Kota Banjarbaru ada beberapa yang alami luka berat dan rawat inap, kemudian luka ringan dan rawat jalan, kemudian Kalteng ada rawat inap, kemudian dengan luka ringan, dan rawat inap ada di Kalbar juga sebanyak 9 luka berat, 19 luka ringan, meninggalnya 1, dengan pengungsian sebanyak 45,” jelas dia.
Rincian data korban yang disampaikan Kemenkes yakni:
– Kalimantan Selatan: 2 luka berat, 3 luka ringan, 0 meninggal.
– Kalimantan Tengah: 313 luka berat, 0 luka ringan, 3 meninggal.
– Kalimantan Barat: 9 luka berat, 19 luka ringan, 1 meninggal.
– Kalimantan Timur: belum tercatat korban.
– Jambi: belum tercatat korban.
– Riau: belum tercatat korban.
– Sumatera Selatan: belum tercatat korban.
Dengan demikian, jumlah korban tercatat sebanyak 324 orang luka berat, 23 orang luka ringan, dan 4 orang meninggal dunia.
Data tersebut menunjukkan dampak karhutla tidak hanya berupa gangguan asap, tetapi juga telah menyebabkan korban yang membutuhkan penanganan medis serta warga yang harus mengungsi.







