Metapos.id, Jakarta – Siklus menstruasi tidak hanya memengaruhi kesehatan fisik, tetapi juga berpengaruh terhadap kondisi mental dan emosional perempuan. Perubahan kadar hormon estrogen dan progesteron selama siklus menstruasi dapat memengaruhi neurotransmiter di otak yang berperan dalam mengatur suasana hati.
Menurut para ahli, penurunan kadar estrogen menjelang dan saat menstruasi dapat menyebabkan kadar serotonin dan dopamin ikut berubah. Kondisi tersebut membuat sebagian perempuan menjadi lebih sensitif, mudah cemas, sedih, atau mudah tersinggung dibandingkan hari-hari biasanya.
Gejala emosional yang muncul umumnya merupakan bagian dari sindrom pramenstruasi (PMS). Pada sebagian orang, gejalanya tergolong ringan, tetapi ada juga yang mengalami perubahan suasana hati yang cukup mengganggu aktivitas sehari-hari.
Dalam kasus tertentu, perubahan emosi dapat berkembang menjadi Premenstrual Dysphoric Disorder (PMDD), yaitu bentuk PMS yang lebih berat. Kondisi ini ditandai dengan depresi, kecemasan, mudah marah, hingga sulit berkonsentrasi sehingga memerlukan penanganan medis.
Selain faktor hormonal, kualitas tidur yang buruk, stres, pola makan, dan kurangnya aktivitas fisik juga dapat memperburuk kondisi mental selama siklus menstruasi. Karena itu, setiap perempuan dapat mengalami tingkat keparahan gejala yang berbeda-beda.
Untuk membantu mengurangi gejala, para ahli menyarankan menjaga pola makan bergizi, rutin berolahraga, tidur yang cukup, dan mengelola stres. Langkah-langkah tersebut dapat membantu menstabilkan suasana hati sekaligus menjaga kesehatan tubuh secara keseluruhan.
Apabila perubahan suasana hati berlangsung sangat berat, terus berulang setiap siklus, atau mengganggu pekerjaan dan hubungan sosial, sebaiknya segera berkonsultasi dengan dokter atau psikolog. Penanganan yang tepat dapat membantu mengurangi gejala dan meningkatkan kualitas hidup.
Dengan demikian, anggapan bahwa siklus menstruasi dapat memengaruhi kesehatan mental merupakan fakta. Meski begitu, perubahan emosi akibat menstruasi bersifat normal pada banyak perempuan dan umumnya dapat dikelola melalui pola hidup sehat serta dukungan medis bila diperlukan.







