Metapos.id, Jakarta — Mencari teman baru ternyata tidak selalu mudah ketika seseorang mulai memasuki usia dewasa. Kesempatan untuk bertemu dan berinteraksi dengan orang baru cenderung semakin sedikit dibandingkan saat masih duduk di bangku sekolah atau kuliah.
Pada masa sekolah dan perguruan tinggi, seseorang biasanya berada dalam lingkungan yang membuat interaksi terjadi secara rutin. Teman sekelas, kegiatan organisasi, lingkungan kampus, hingga relasi keluarga dapat menjadi pintu untuk membangun pertemanan.
Kondisinya berbeda ketika seseorang mulai bekerja dan menjalani berbagai kesibukan. Jadwal yang padat, lingkungan sosial yang lebih terbatas, serta perbedaan aktivitas membuat proses mendapatkan teman baru membutuhkan usaha lebih besar.
Psikolog Janice McCabe, PhD, yang merupakan penulis buku Making, Keeping, and Losing Friends, menjelaskan bahwa ada periode tertentu dalam kehidupan ketika peluang membangun pertemanan jauh lebih terbuka.
Masa awal SMA dan kuliah menjadi salah satu contohnya. Pada periode tersebut, banyak orang sama-sama berada di lingkungan baru sehingga lebih mudah membuka diri dan menjalin hubungan dengan orang lain.
Sementara itu, psikolog sekaligus pakar pertemanan Marisa Franco, PhD, menilai orang dewasa semakin jarang berada dalam situasi yang memungkinkan interaksi berlangsung secara spontan dan berulang.
“Kita tidak lagi berada di banyak lingkungan yang memungkinkan interaksi berkelanjutan tanpa rencana dan keterbukaan emosional,” kata Franco dikutip dari berbagai sumber, Sabtu (5/9/26).
Lingkungan pekerjaan memang dapat menjadi tempat untuk menemukan teman baru. Namun, tidak semua orang mendapatkan situasi yang mendukung.
Karyawan baru, misalnya, bisa saja masuk ke dalam tim yang sudah memiliki hubungan dekat. Selain itu, perbedaan kepribadian, usia, minat, dan kesibukan juga dapat menjadi tantangan dalam membangun kedekatan.
Manfaatkan Hobi untuk Bertemu Teman Baru
Ada berbagai cara yang bisa dilakukan untuk memperluas lingkungan pertemanan. Salah satunya dengan mengikuti kegiatan yang sesuai dengan minat dan hobi.
Rebecca Marcus, LCSW, direktur klinis sekaligus pendiri RM Psychotherapy, menyarankan orang dewasa memilih aktivitas yang memungkinkan mereka bertemu dengan orang-orang yang mempunyai ketertarikan serupa.
Kegiatan seperti olahraga, kelas seni, maupun aktivitas komunitas dapat menjadi pilihan. Bagi yang aktif dalam kegiatan keagamaan, komunitas berbasis keagamaan juga dapat menjadi tempat untuk memperluas relasi.
“Ada banyak hal terkait olahraga atau aktivitas, seperti kelas seni,” jelas Marcus.
Teknologi juga dapat dimanfaatkan untuk menemukan teman baru. Salah satu pilihannya adalah Bumble BFF, aplikasi yang memungkinkan penggunanya mencari koneksi untuk membangun pertemanan.
Menurut Marcus, penggunaan aplikasi untuk mencari teman dapat menjadi pilihan bagi orang yang merasa lebih nyaman dengan cara tersebut. Prinsipnya hampir serupa dengan penggunaan aplikasi kencan, tetapi tujuannya adalah membangun hubungan pertemanan.
“Aplikasi atau cara yang lebih formal untuk bertemu orang bisa jadi pilihan bagus kalau memang cocok buatmu. Yang lebih penting bukan soal detail di mana bertemu orang, tapi bagaimana perasaanmu saat menggunakan aplikasi itu,” jelasnya.
Terapis asal New York, Kathryn Lee, LMHC, juga menilai aplikasi pertemanan memiliki keunggulan tersendiri. Penggunanya cenderung sudah memiliki tujuan yang jelas, yakni mencari koneksi sosial baru.
Kondisi tersebut dapat membuat proses berkenalan terasa lebih mudah karena kedua pihak sama-sama mengetahui tujuan mereka sejak awal.
Rasa Canggung Tak Perlu Dihindari
Pertemuan pertama dengan calon teman baru tidak harus langsung menghasilkan kedekatan. Rasa canggung atau bingung mencari bahan pembicaraan merupakan hal yang wajar dalam proses tersebut.
Carolyn Bruckmann, kandidat doktor psikologi klinis, melalui artikelnya pada 2025 untuk Harvard Kennedy School berjudul The Friendship Recession: The Lost Art of Connecting, menjelaskan bahwa membangun persahabatan membutuhkan keberanian untuk keluar dari zona nyaman.
Menurutnya, pengalaman yang terasa tidak nyaman pada awal perkenalan justru dapat menjadi bagian dari proses membangun hubungan. Menghadapi pengalaman baru atau tantangan bersama juga berpotensi membuat hubungan semakin dekat.
Untuk mengurangi kecanggungan, Kathryn Lee menyarankan pertemuan yang dilakukan sambil menjalani suatu aktivitas.
Dengan adanya kegiatan yang dilakukan bersama, perhatian tidak hanya tertuju pada percakapan. Situasi tersebut juga dapat membuat obrolan berkembang secara lebih alami.
Beberapa kegiatan yang bisa dicoba antara lain bermain pickleball, mengikuti kelas kreatif seperti paint-and-sip, atau menghadiri konser musisi yang sama-sama disukai.
Kesibukan dan perubahan lingkungan memang dapat membuat kehidupan sosial orang dewasa menjadi lebih terbatas. Namun, kondisi tersebut bukan berarti seseorang tidak dapat memiliki teman baru.
Membangun pertemanan membutuhkan kemauan untuk membuka diri, mencoba lingkungan baru, serta memberikan kesempatan kepada hubungan untuk berkembang secara perlahan.
Tidak semua orang yang ditemui akan menjadi teman dekat. Karena itu, seseorang tidak perlu merasa gagal ketika sebuah hubungan pertemanan tidak berlanjut.
Dengan terus mencoba berbagai aktivitas dan lingkungan sosial, peluang menemukan orang yang cocok untuk dijadikan teman pun akan semakin besar.






