Metapos.id, Jakarta – Populasi ikan sapu-sapu terus meningkat dan mendominasi sejumlah sungai di Indonesia maupun Malaysia. Spesies invasif yang berasal dari Amerika Selatan itu dinilai menjadi ancaman serius bagi kelestarian ekosistem perairan karena mampu menggeser keberadaan ikan-ikan lokal.
Di Jakarta, ikan sapu-sapu kini banyak ditemukan di Sungai Ciliwung, waduk, dan saluran air lainnya. Keberadaannya disebut telah mengurangi populasi berbagai jenis ikan asli, seperti gabus, baung merah, dan wader.
Fenomena serupa juga terjadi di Malaysia. Departemen Perikanan Malaysia memperkirakan sekitar 80 hingga 90 persen populasi ikan di sejumlah wilayah Lembah Klang telah didominasi ikan sapu-sapu, sehingga mengancam kelangsungan spesies lokal.
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta telah melakukan penangkapan massal sejak pertengahan April 2026. Dalam waktu sepekan, lebih dari 10 ton ikan sapu-sapu berhasil diangkat dari sejumlah sungai dan saluran air.
Meski demikian, para ahli menilai langkah tersebut belum cukup efektif untuk menekan populasinya. Ikan sapu-sapu memiliki kemampuan berkembang biak dengan sangat cepat, mampu bertelur ratusan butir dalam sekali pemijahan, serta tidak memiliki predator alami di perairan Asia Tenggara.
Selain itu, spesies ini mampu bertahan hidup di perairan yang tercemar karena dapat mengambil oksigen langsung dari udara. Kemampuan tersebut membuat ikan sapu-sapu lebih mudah beradaptasi dibandingkan ikan lokal.
Para peneliti juga mengingatkan bahwa ikan sapu-sapu dapat mengandung logam berat seperti timbal dan arsenik akibat hidup di dasar sungai yang tercemar. Karena itu, masyarakat diimbau tidak mengonsumsinya meskipun populasinya melimpah.
Para pakar menilai pengendalian pencemaran sungai, pengawasan terhadap pelepasan spesies asing, serta edukasi kepada masyarakat menjadi langkah penting agar penyebaran ikan sapu-sapu tidak semakin meluas.







