Metapos.id, Jakarta – Berkurban menjadi salah satu ibadah yang sangat dianjurkan dalam Islam saat Idul Adha. Namun, banyak umat muslim bertanya apakah kurban untuk orang yang sudah meninggal diperbolehkan.
Sebagian ulama menyatakan kurban atas nama orang yang telah wafat hukumnya sah. Meski demikian, pelaksanaannya tetap harus memperhatikan niat dan ketentuan syariat.
Mayoritas ulama menyarankan seseorang berkurban untuk dirinya sendiri terlebih dahulu. Setelah itu, barulah kurban dapat diniatkan untuk orang tua atau keluarga yang telah meninggal.
Mazhab Hanafi membolehkan kurban tanpa wasiat jika diniatkan sebagai sedekah. Sementara mazhab Syafi’i dan Hanbali lebih cenderung mensyaratkan adanya wasiat dari almarhum.
Imam an-Nawawi menjelaskan pahala kurban dapat sampai kepada mayit jika diniatkan sebagai sedekah. Pendapat tersebut banyak dijadikan rujukan oleh umat muslim.
Ada pula ulama yang menganggap kurban untuk orang meninggal tidak sah tanpa wasiat atau nazar. Sebab, ibadah kurban dinilai bersifat personal dan berkaitan langsung dengan pelakunya.
Meski begitu, kurban tetap diperbolehkan jika almarhum pernah bernazar atau meninggalkan wasiat kepada keluarga. Dalam kondisi itu, kurban menjadi amanah yang wajib ditunaikan ahli waris.
Tata cara kurban untuk orang meninggal dapat dilakukan dengan menggabungkan niat untuk diri sendiri dan keluarga. Cara lain adalah meniatkannya secara khusus sebagai sedekah bagi almarhum.
Penyembelihan tetap harus dilakukan pada hari Idul Adha atau hari tasyrik. Hewan kurban juga wajib memenuhi syarat sah sesuai ketentuan syariat Islam.
Kurban atas nama orang meninggal dinilai memiliki banyak keutamaan, termasuk sebagai bentuk bakti dan doa untuk keluarga yang telah wafat. Selain itu, ibadah ini juga mengajarkan keikhlasan dan kepedulian sosial kepada sesama.







