Metapos.id, Jakarta – Korps Brimob Polri mulai menjalankan strategi baru dalam menghadapi aksi massa. Kini, satuan tersebut lebih mengutamakan pendekatan persuasif dan humanis.
Komandan Korps Brimob Polri, Ramdani Hidayat, menyampaikan kebijakan itu setelah rapat kerja teknis di Markas Brimob, Depok. Agenda tersebut diikuti ribuan personel.
Ia mengatakan, petugas tidak lagi langsung mengedepankan tindakan keras. Sebagai gantinya, personel akan membuka langkah awal melalui komunikasi dan mediasi.
Selain itu, aparat akan memakai pola pengamanan yang lebih lunak. Mereka juga menggandeng unsur pembinaan masyarakat serta satuan pengendali massa lainnya.
Namun, Brimob tetap bersiaga jika kondisi di lapangan mulai memanas. Karena itu, pengerahan pasukan dilakukan sesuai situasi yang berkembang.
Ramdani menegaskan pasukan PHH bertugas mencegah tindakan anarkis. Mereka bukan untuk menghadapi demonstrasi dengan kekerasan.
Meski demikian, petugas akan mengambil tindakan tegas bila terjadi perusakan fasilitas umum. Mereka juga akan bergerak jika muncul pembakaran atau ancaman bagi warga.
Di sisi lain, Brimob terus memperkuat koordinasi dengan unsur intelijen. Mereka juga menjalin kerja sama dengan jajaran kepolisian daerah.
Langkah tersebut dinilai penting untuk mencegah gangguan kamtibmas. Apalagi, perkembangan global bisa berdampak pada situasi dalam negeri.
Ramdani menyoroti isu energi dan konflik geopolitik sebagai perhatian serius. Karena itu, kesiapan personel terus ditingkatkan.
Sebelumnya, Kapolri Listyo Sigit Prabowo meminta seluruh personel Brimob tetap siaga. Mereka diminta siap menghadapi dinamika internasional yang berpotensi memengaruhi kondisi nasional.







