Metapos.id, Jakarta – Pernyataan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengenai stok bahan bakar minyak (BBM) Indonesia yang disebut hanya cukup untuk 21 hari memicu perhatian publik. Pernyataan itu muncul di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah setelah konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran.
Menanggapi hal tersebut, Wakil Ketua Komisi XII Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia Sugeng Suparwoto menegaskan bahwa angka 21 hari yang disampaikan bukan merujuk pada cadangan nasional BBM, melainkan stok operasional milik Pertamina.
Menurut Sugeng, stok operasional tersebut terdiri dari minyak mentah (crude oil) maupun produk BBM hasil kilang yang tersimpan di berbagai fasilitas penyimpanan.
Fasilitas itu mencakup tangki penampungan di darat, kapal tanker, hingga fasilitas floating storage yang digunakan untuk menjaga stabilitas pasokan energi.
Ia menjelaskan bahwa stok tersebut berfungsi untuk memastikan distribusi BBM harian di seluruh wilayah Indonesia tetap berjalan lancar. Dengan kata lain, stok operasional itu bukanlah cadangan darurat yang disiapkan negara untuk menghadapi krisis energi dalam jangka panjang.
Indonesia Belum Memiliki Cadangan Strategis
Sugeng juga mengungkapkan bahwa hingga saat ini Indonesia belum memiliki cadangan strategis BBM nasional yang dikelola langsung oleh negara. Cadangan strategis atau Strategic Petroleum Reserve umumnya digunakan oleh sejumlah negara untuk menjaga ketahanan energi ketika terjadi gangguan pasokan global.
Beberapa negara yang telah menerapkan sistem tersebut antara lain Amerika Serikat, Jepang, dan Korea Selatan.
Sebagai contoh, Amerika Serikat memiliki cadangan minyak sekitar 700 juta barel yang disimpan di fasilitas bawah tanah dan dikelola oleh United States Department of Energy. Cadangan tersebut dapat digunakan untuk menstabilkan pasar ketika terjadi lonjakan harga, gangguan pasokan, maupun kondisi darurat seperti bencana dan konflik.
Sugeng menilai keberadaan cadangan strategis menjadi semakin penting, terutama di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik yang berpotensi memengaruhi pasokan energi global.
Harga Minyak Dunia Ikut Naik
Ketegangan geopolitik juga berdampak pada harga minyak dunia. Dalam beberapa hari terakhir, harga minyak mentah global dilaporkan naik lebih dari 12 persen.
Harga minyak jenis Brent Crude Oil saat ini berada di kisaran 79 hingga 83 dolar AS per barel, meningkat dari sebelumnya sekitar 69 hingga 71 dolar AS per barel.
Sementara itu, dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara 2026, pemerintah menetapkan asumsi harga minyak mentah Indonesia (Indonesia Crude Price) sebesar 70 dolar AS per barel dengan target produksi minyak atau lifting sekitar 610 ribu barel per hari.
Di sisi lain, konsumsi BBM nasional mencapai sekitar 1,6 juta barel per hari. Dengan kondisi tersebut, Indonesia masih harus mengimpor sekitar 1 juta barel BBM setiap hari untuk memenuhi kebutuhan energi domestik.
Pertamina Pantau Situasi Selat Hormuz
Di tengah situasi tersebut, Pertamina Patra Niaga menyatakan terus memantau perkembangan konflik geopolitik di Timur Tengah, termasuk potensi gangguan distribusi energi akibat kemungkinan penutupan Selat Hormuz, jalur penting perdagangan minyak dunia.
Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga Roberth MV Dumatubun memastikan bahwa hingga saat ini pasokan BBM di Indonesia masih dalam kondisi aman.
Ia menambahkan bahwa perusahaan juga terus memprioritaskan keselamatan pekerja serta keamanan aset energi yang berada di wilayah yang berpotensi terdampak konflik.
Selain itu, Pertamina menyatakan akan terus berkoordinasi dengan berbagai pihak untuk memastikan distribusi energi nasional tetap berjalan lancar di tengah situasi geopolitik global yang masih dinamis.













