Metapos.id, Jakarta – Warga Desa Sibalanga, Kecamatan Adiankoting, Kabupaten Tapanuli Utara, berharap pembangunan hunian sementara (huntara) bagi korban bencana tanah longsor dapat segera rampung agar bisa segera ditempati para penyintas.
Salah seorang warga, Roslina Nasution, mengatakan progres pembangunan huntara yang dikerjakan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) bersama pemerintah daerah menunjukkan perkembangan yang cukup baik. Meski demikian, ia berharap proses pengerjaan dapat dipercepat mengingat kebutuhan tempat tinggal warga terdampak yang masih mendesak.
Menurut Roslina, hingga kini masih banyak korban longsor yang belum memiliki hunian layak sejak bencana terjadi. Ia berharap rumah-rumah sementara yang tengah dibangun tersebut dapat segera difungsikan guna meringankan beban para penyintas.
Meski rumahnya tidak terdampak langsung oleh bencana dan berada tidak jauh dari lokasi pembangunan huntara, perempuan berusia 74 tahun itu mengaku rutin memantau perkembangan proyek tersebut. Ia pun mengapresiasi keseriusan pemerintah dan pihak terkait dalam mempercepat penyediaan hunian bagi warga terdampak.
Saat ini, BNPB bersama Pemerintah Kabupaten Tapanuli Utara tengah membangun sebanyak 40 unit huntara di Desa Sibalanga. Lokasi pembangunan berada di wilayah terpencil dengan waktu tempuh sekitar delapan jam perjalanan darat dari Kota Medan.
Pihak pelaksana sebelumnya menyampaikan bahwa pengerjaan huntara dilakukan secara intensif agar dapat segera diserahterimakan kepada warga. Hingga pertengahan Januari 2026, progres pembangunan dilaporkan telah mencapai sekitar 80 persen dan ditargetkan selesai pada akhir bulan ini.
Setiap unit huntara dibangun di atas lahan seluas 24 meter persegi dengan konsep rumah tumbuh, sehingga memungkinkan bangunan dikembangkan menjadi hunian permanen di kemudian hari. Area tambahan di bagian depan rumah juga telah disiapkan untuk mendukung pengembangan tersebut.
Berdasarkan data Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops PB) Sumatera Utara per 22 Januari 2026, bencana banjir dan tanah longsor di wilayah tersebut berdampak pada 14.033 jiwa dari 3.509 kepala keluarga. Dalam peristiwa tersebut, tercatat 36 orang meninggal dunia, sementara dua orang lainnya masih dinyatakan hilang.












