Thursday, August 20, 2026
Metapos
No Result
View All Result
  • Home
  • Nasional
  • News
  • Ekbis
  • Hukum & Kriminal
  • Sport
  • Internasional
  • Lifestyle & Health
  • Tek & Oto
  • Mozaik
  • Galeri
  • Home
  • Nasional
  • News
  • Ekbis
  • Hukum & Kriminal
  • Sport
  • Internasional
  • Lifestyle & Health
  • Tek & Oto
  • Mozaik
  • Galeri
No Result
View All Result
Morning News
No Result
View All Result
  • Home
  • Nasional
  • News
  • Ekbis
  • Hukum & Kriminal
  • Sport
  • Internasional
  • Lifestyle & Health
  • Tek & Oto
  • Mozaik
  • Galeri

Utang AS Menggunung, Benarkah Amerika di Ambang Bangkrut?

Taufik Hidayat by Taufik Hidayat
20 August 2026
in Internasional
Utang AS Menggunung, Benarkah Amerika di Ambang Bangkrut?

Metapos.id, Jakarta – Amerika Serikat (AS) kini menghadapi persoalan fiskal yang semakin serius. Utang pemerintah federal negara tersebut telah menembus US$40 triliun dan mencatat rekor tertinggi sepanjang sejarah.

Mengacu pada data Departemen Keuangan AS, posisi utang federal mencapai US$40 triliun pada Selasa. Jika dikonversikan menggunakan kurs sekitar Rp17.940 per dolar AS, jumlah tersebut setara dengan sekitar Rp717.600 triliun atau Rp717 kuadriliun.

BACA JUGA

Roberto Carlos Disebut Ucap Syahadat, Benarkah Telah Memeluk Islam?

Menteri Garis Keras Israel Serukan Bunuh 30-40 Orang di Gaza Tiap Malam

Lonjakan utang tersebut terjadi dalam waktu cukup cepat. Hanya dalam lima bulan terakhir, utang pemerintah AS bertambah sekitar US$1 trtriliun.l

CEO Peter G. Peterson Foundation, Michael Peterson, menilai tren tersebut berpotensi membuat beban utang AS terus membesar dalam beberapa tahun mendatang.

“Jika melihat ke belakang, kita baru mencapai US$20 triliun kurang dari 10 tahun lalu,” ujarnya di kutip dari berbagai sumber , Kamis (20/8/2026).

Mengapa Utang AS Mengkhawatirkan?

Besarnya utang bukan menjadi satu-satunya persoalan yang dihadapi pemerintah AS. Laju pertumbuhan utang juga menjadi perhatian karena negara tersebut masih mengalami defisit anggaran.

Selama 10 bulan pertama tahun fiskal berjalan, defisit anggaran AS telah mencapai US$1,8 triliun. Kondisi ini terjadi karena pengeluaran pemerintah masih lebih besar daripada pendapatan yang diterima.

Tekanan terhadap anggaran juga dipengaruhi perubahan demografi. Sekitar 10.000 warga Baby Boomer memasuki masa pensiun setiap hari. Di sisi lain, masyarakat AS memiliki usia harapan hidup yang semakin panjang.

Kondisi tersebut turut meningkatkan kebutuhan anggaran untuk membiayai program Social Security dan Medicare.

Kebijakan pemangkasan pajak serta peningkatan belanja pemerintah dalam beberapa tahun terakhir juga ikut memperbesar kebutuhan pembiayaan. Salah satunya berasal dari kebijakan pajak pada era Presiden Donald Trump dan berbagai program bantuan ekonomi selama pandemi Covid-19.

Pertumbuhan utang AS bahkan berlangsung lebih cepat dari proyeksi sebelumnya. Congressional Budget Office pada 2023 memperkirakan utang pemerintah AS baru akan menyentuh US$40 triliun pada 2028.

Biaya Bunga Utang Meningkat

Selain jumlah utang, pemerintah AS juga menghadapi kenaikan biaya untuk membayar bunga. Kombinasi antara utang yang semakin besar dan tingkat suku bunga yang tinggi membuat pengeluaran untuk bunga meningkat tajam.

Pembayaran bunga pemerintah AS diproyeksikan mencapai lebih dari US$1 triliun pada tahun fiskal ini. Angka tersebut sekaligus menjadi rekor baru.

Dalam lima tahun terakhir, beban bunga utang pemerintah AS telah meningkat lebih dari tiga kali lipat. Pengeluaran tersebut bahkan hampir menyamai anggaran Medicare dan kini menjadi salah satu komponen belanja terbesar pemerintah setelah Social Security.

“Utang kita menghasilkan lebih banyak utang. Ini menciptakan lingkaran setan,” kata analis dari Committee for a Responsible Federal Budget, Marc Goldwein.

Apakah Utang Bisa Membuat AS Bangkrut?

Utang pemerintah yang mencapai US$40 triliun tidak secara otomatis berarti AS akan mengalami kebangkrutan. Negeri tersebut masih mempunyai posisi strategis dalam sistem keuangan global karena dolar AS digunakan sebagai mata uang utama dunia.

Selain itu, Treasury atau surat utang pemerintah AS masih menjadi instrumen investasi yang banyak diminati dan digunakan oleh investor di berbagai negara.

Meski demikian, peningkatan utang tetap berpotensi menimbulkan tekanan apabila pemerintah tidak mampu mengendalikan kondisi fiskalnya. Salah satu dampaknya mulai tercermin di pasar obligasi.

Imbal hasil Treasury AS tenor 30 tahun pada Selasa berada di level tertinggi sejak 2007. Sementara itu, imbal hasil Treasury tenor 10 tahun juga mendekati level tertinggi selama periode kedua pemerintahan Trump.

Jika investor menilai risiko fiskal AS semakin meningkat, mereka berpotensi meminta imbal hasil yang lebih tinggi sebagai kompensasi saat memegang obligasi pemerintah AS.

Kondisi tersebut tidak hanya berdampak pada pemerintah. Imbal hasil Treasury 10 tahun juga menjadi salah satu rujukan penting bagi berbagai jenis suku bunga, mulai dari kredit pemilikan rumah (KPR), pembiayaan kendaraan, hingga pinjaman untuk dunia usaha.

Dengan demikian, meningkatnya biaya utang pemerintah dapat ikut mendorong kenaikan biaya pembiayaan bagi masyarakat dan perusahaan.

Presiden organisasi nonpartisan Committee for a Responsible Federal Budget, Maya MacGuineas, menilai besarnya utang pemerintah pada akhirnya dapat memberikan dampak langsung maupun tidak langsung kepada masyarakat.

“Semakin banyak kita berutang, semakin besar tekanan terhadap inflasi, prioritas anggaran lainnya, dan kemampuan menghadapi keadaan darurat,” ujarnya.

AS Tak Lagi Punya Rating Kredit Sempurna

Kekhawatiran terhadap kondisi keuangan pemerintah AS juga tercermin dari peringkat kreditnya. Pada 2025, Moody’s memangkas peringkat utang pemerintah AS.

Keputusan tersebut membuat AS kehilangan status sebagai negara terakhir yang masih memiliki rating kredit sempurna.

Kendati demikian, peringkat utang AS masih berada pada kategori sangat tinggi. Posisi tersebut juga masih lebih baik dibandingkan sejumlah negara maju, termasuk Prancis dan Jepang.

Persoalan utang pun tidak hanya menjadi tantangan bagi AS. Inggris, Prancis, Jerman, dan Jepang turut menghadapi tekanan fiskal. Imbal hasil obligasi pemerintah negara-negara tersebut juga berada di sekitar level tertinggi dalam beberapa tahun terakhir.

Dengan posisi utang yang telah mencapai US$40 triliun dan berpotensi terus meningkat menuju US$50 triliun, persoalan utama AS bukan sekadar kemampuan pemerintah dalam melunasi kewajibannya.

Tantangan yang lebih besar adalah seberapa besar beban utang tersebut akan mengurangi ruang fiskal pemerintah untuk mendukung pertumbuhan ekonomi serta menangani kebutuhan darurat di masa depan.

Tags: Beban FiskalDefisitEkonomi AmerikaMetapos.idTreasuryUtang AS
Previous Post

kabut asap, karhutla Kalimantan, Malaysia, Sarawak, sekolah ditutup, kualitas udara

Next Post

Sabu Cair 2,6 Ton Disita BNN

Related Posts

Roberto Carlos Disebut Ucap Syahadat, Benarkah Telah Memeluk Islam?
Internasional

Roberto Carlos Disebut Ucap Syahadat, Benarkah Telah Memeluk Islam?

19 August 2026
Menteri Garis Keras Israel Serukan Bunuh 30-40 Orang di Gaza Tiap Malam
Internasional

Menteri Garis Keras Israel Serukan Bunuh 30-40 Orang di Gaza Tiap Malam

18 August 2026
wabah Ebola di Kongo
Internasional

Wabah Ebola di Kongo Makin Mematikan, 2.325 Orang Dilaporkan Tewas

18 August 2026
Abbas Araghchi
Internasional

Menlu Iran Tegaskan Teheran Belum Putuskan Kembali Berunding dengan AS

15 August 2026
584 Pemukim Israel Masuki Kompleks Al Aqsa di Bawah Pengawalan Polisi
Internasional

584 Pemukim Israel Masuki Kompleks Al Aqsa di Bawah Pengawalan Polisi

14 August 2026
Karoline Leavitt
Internasional

Karoline Leavitt Tinggalkan Jabatan Sekretaris Pers Gedung Putih Akhir Agustus

13 August 2026
Next Post
BNN menyita 2,6 ton liquid methamphetamine dari kapal MV Ocean Porter berbendera Tanzania di perairan Bengkalis, Riau.

Sabu Cair 2,6 Ton Disita BNN

  • Kontak Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

© 2026 Metapos - Media Informasi Terkini

No Result
View All Result
  • Home
  • Nasional
  • News
  • Ekbis
  • Hukum & Kriminal
  • Sport
  • Internasional
  • Lifestyle & Health
  • Tek & Oto
  • Mozaik
  • Galeri

© 2026 Metapos - Media Informasi Terkini