Metapos.id, Jakarta – Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan rencana pembentukan “Pasukan AI” dan penunjukan koordinator kecerdasan buatan atau AI czar.
Rencana tersebut diumumkan ketika Trump menegaskan pemerintahannya tidak akan memperlambat perkembangan AI, meski sejumlah tokoh industri teknologi memperingatkan risiko dari perkembangan teknologi yang semakin pesat.
“Kami tidak akan menghalangi atau menghambat pertumbuhan industri yang luar biasa ini dengan cara apa pun,” tulis Trump, dikutip dari berbagai sumber, Senin (21/9/2026).
Trump mengatakan pemerintah justru akan mendukung perkembangan AI sekaligus mengawasi potensi penyalahgunaannya. Ia juga membandingkan rencana tersebut dengan pembentukan United States Space Force pada masa jabatan pertamanya.
“Untuk tujuan ini, saya membentuk Pasukan AI, sama seperti yang saya lakukan pada Pasukan Luar Angkasa, yang telah SUKSES besar, pada masa jabatan pertama saya,” tulisnya.
Trump belum memberikan penjelasan mengenai struktur, kewenangan, anggaran, maupun posisi Pasukan AI tersebut di dalam pemerintahan federal. Gedung Putih juga belum memberikan rincian lebih lanjut mengenai bentuk organisasi yang akan dibangun.
Ia juga mengatakan akan segera mengumumkan sosok yang ditunjuk sebagai koordinator AI. Trump menambahkan bahwa hanya orang dengan IQ tinggi yang perlu mendaftar.
Trump menilai perkembangan AI memiliki potensi ekonomi yang sangat besar. Ia bahkan memperkirakan teknologi tersebut pada akhirnya dapat menyumbang hingga 25 persen terhadap produk domestik bruto Amerika Serikat.
“Kita memimpin China, dan seluruh dunia, dan saya bermaksud untuk mempertahankannya!” tulis Trump.
Pernyataan tersebut muncul di tengah persaingan teknologi antara Amerika Serikat dan China. Trump sebelumnya juga menekankan bahwa mempertahankan keunggulan AI menjadi prioritas pemerintahannya.
Di sisi lain, sejumlah tokoh industri teknologi telah menyuarakan kekhawatiran mengenai perkembangan AI yang terlalu cepat. CEO Anthropic Dario Amodei, CEO OpenAI Sam Altman, Elon Musk, serta salah satu pendiri Google DeepMind Demis Hassabis termasuk tokoh yang sebelumnya mendukung seruan agar pengembangan sistem AI semakin canggih dilakukan dengan perhatian lebih besar terhadap aspek keselamatan.
Amodei sebelumnya memperingatkan bahwa perkembangan AI yang pesat berpotensi membuat sistem semakin sulit dikendalikan manusia. Ia juga menyoroti kemungkinan penyalahgunaan teknologi untuk serangan siber dan bioterorisme serta dampaknya terhadap perekonomian.
Trump menepis kekhawatiran mengenai kemungkinan AI mengambil alih dunia dan menyebutnya sebagai “hoax”. Sebaliknya, ia menggambarkan AI dan pusat data sebagai mesin pembangunan ekonomi terbesar dalam sejarah.
Rencana pembentukan Pasukan AI juga muncul menjelang pertemuan Trump dengan Presiden China Xi Jinping. Persaingan AI antara kedua negara menjadi salah satu isu strategis yang semakin menonjol, sementara Washington dan Beijing juga menghadapi kekhawatiran mengenai penggunaan AI untuk keamanan nasional dan potensi kesalahan sistem.







