Metapos.id, Jakarta – Kebijakan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dalam perang melawan Iran menjadi salah satu faktor yang memengaruhi hasil pemilihan paruh waktu atau midterm election 2026. Konflik tersebut dinilai membawa konsekuensi politik bagi Partai Republik, terutama di tengah meningkatnya biaya energi, inflasi, dan ketidakpastian ekonomi.
Peneliti senior Center for International Policy, Negar Mortazavi, menilai keterlibatan AS dalam perang bersama Israel melawan Iran bertentangan dengan janji Trump untuk menjauhkan negaranya dari konflik baru.
Mortazavi mengatakan perang tersebut dimulai tanpa strategi yang jelas maupun jalan menuju kemenangan. Karena itu, pemilu sela menjadi bentuk penilaian masyarakat terhadap keputusan Trump melibatkan AS dalam konflik tersebut.
“Pemilu AS ini merupakan referendum atas perang Trump dengan Iran,” kata Mortazavi, dikutip dari Al Jazeera, Kamis (5/11/2026).
Menurutnya, kemenangan Partai Demokrat dalam merebut kendali DPR dan Senat dapat meningkatkan tekanan politik terhadap Trump agar mengakhiri perang.
Meski demikian, hasil tersebut tidak serta-merta menghilangkan kewenangan presiden. Trump masih memiliki hak veto terhadap undang-undang yang disahkan Kongres.
Perang Iran Jadi Beban Politik Partai Republik
Dampak konflik terhadap politik domestik AS terlihat setelah Partai Demokrat berhasil merebut kendali kedua kamar Kongres dalam pemilu sela yang berlangsung 3 November 2026.
Trump mengakui perang Iran menjadi salah satu faktor yang berkontribusi terhadap kekalahan Partai Republik. Dalam wawancara dengan Fox News, Trump menyebut Iran sebagai salah satu penyebab hasil pemilu tersebut.
Meski demikian, Trump tetap membela keputusannya melancarkan perang. Ia mengatakan telah mengambil langkah yang benar dan akan kembali melakukan hal serupa.
Selama kampanye, kandidat Partai Demokrat menyoroti dampak perang terhadap harga bahan bakar dan kebutuhan masyarakat. Konflik yang berlangsung sejak Februari 2026 tersebut dinilai memperburuk tekanan biaya hidup warga Amerika.
Mortazavi juga memperingatkan bahwa hasil pemilu menjadi pengingat bagi presiden AS berikutnya mengenai konsekuensi politik dari keterlibatan militer di luar negeri.
“Presiden Amerika tidak bisa berasumsi bahwa mereka dapat melancarkan perang mahal di Timur Tengah tanpa harus membayar harga politik di dalam negeri,” tandasnya.







