Metapos.id, Jakarta – Kebaya selama ini dikenal sebagai salah satu busana tradisional khas Indonesia yang sering dikenakan dalam acara resmi maupun kegiatan budaya. Namun, pada masa lalu, kebaya memiliki fungsi yang lebih dari sekadar pakaian karena menjadi simbol status sosial, identitas, dan kedudukan seseorang di masyarakat.
Fashion stylist sekaligus creative director yang menaruh perhatian pada sejarah dan budaya, Rumi Siddharta, mengungkapkan bahwa cara berpakaian masyarakat pada masa lampau sarat dengan makna. Busana yang dikenakan tidak hanya mencerminkan selera, tetapi juga menunjukkan latar belakang sosial dan budaya pemakainya.
Ia menjelaskan, jenis kain, kualitas bahan, motif, hingga teknik pembuatannya menjadi penanda yang dapat menggambarkan posisi seseorang dalam kehidupan sosial. Melalui penampilan, masyarakat pada masa itu dapat mengenali asal-usul maupun status seseorang.
Menurut Rumi, pilihan busana pada zaman dahulu juga dipengaruhi oleh aturan adat, tradisi, dan norma yang berlaku di masing-masing daerah. Karena itu, tidak semua orang bebas mengenakan pakaian sesuai keinginan.
Di beberapa wilayah, terdapat motif kain maupun jenis busana tertentu yang hanya diperuntukkan bagi kalangan bangsawan atau keluarga kerajaan. Kondisi tersebut membuat pakaian berperan sebagai simbol yang memperlihatkan tingkat sosial pemakainya.
Rumi menambahkan, kebaya tidak pernah dikenakan sebagai busana tunggal. Penampilannya selalu dilengkapi dengan kain, selendang, perhiasan, dan berbagai aksesori lain yang turut memperkuat identitas serta karakter pemakainya.
Ia juga menyebut perkembangan kebaya tidak lepas dari pengaruh hubungan dagang Nusantara dengan berbagai bangsa. Akulturasi budaya dari India, Tiongkok, Arab, Persia, hingga Eropa kemudian berpadu dengan tradisi lokal dan melahirkan beragam bentuk kebaya yang masih dikenal dan dilestarikan hingga sekarang.







