Metapos.id, Jakart – Militer Amerika Serikat kembali melancarkan serangan terhadap sejumlah target militer di Iran. Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) menyatakan operasi tersebut merupakan aksi balasan setelah Iran meluncurkan rudal balistik ke pangkalan militer AS di Timur Tengah sehari sebelumnya.
CENTCOM menjelaskan gelombang serangan berlangsung sekitar dua jam dan menyasar puluhan lokasi strategis. Target yang diserang meliputi pusat komando Korps Garda Revolusi Iran (IRGC), fasilitas rudal dan drone, sistem pertahanan pesisir, serta infrastruktur militer lainnya.
Menurut pihak militer AS, serangan dilakukan sebagai respons terhadap serangan rudal Iran yang sebelumnya diarahkan ke pangkalan Amerika di Yordania. CENTCOM mengklaim seluruh rudal Iran berhasil dicegat sehingga tidak menimbulkan korban di pihak pasukan AS.
Presiden Donald Trump sebelumnya telah memperingatkan bahwa Amerika Serikat akan memberikan respons keras apabila Iran kembali menyerang kepentingan maupun personel militernya di kawasan. Pernyataan tersebut disampaikan sebelum operasi militer terbaru dilaksanakan.
Di sisi lain, Iran mengonfirmasi telah meluncurkan serangan terhadap pangkalan militer Amerika Serikat di Yordania sebagai bagian dari operasi balasan mereka. Ketegangan kedua negara pun kembali meningkat setelah sempat mereda dalam beberapa waktu terakhir.
Serangan terbaru ini menjadi bagian dari rangkaian konflik yang terus berkembang antara Amerika Serikat dan Iran sepanjang 2026. Kedua pihak saling melancarkan operasi militer yang menargetkan fasilitas strategis maupun aset pertahanan di kawasan Timur Tengah.
Pengamat menilai eskalasi tersebut berpotensi meningkatkan ketidakstabilan kawasan dan memengaruhi keamanan jalur pelayaran internasional. Selain itu, konflik yang berkepanjangan juga dapat berdampak pada pasar energi global dan harga minyak dunia.
Hingga saat ini belum ada tanda-tanda kedua negara akan menghentikan aksi militer mereka. Komunitas internasional pun terus menyerukan penahanan diri agar konflik tidak berkembang menjadi perang yang lebih luas di kawasan Timur Tengah.







