Metapos.id, Jakarta — Penampilan wajah ternyata dapat memengaruhi cara seseorang menilai kondisi sosial ekonomi orang lain. Hal tersebut terungkap dalam penelitian yang dilakukan oleh para peneliti dari University of Toronto.
Studi ini melibatkan sebanyak 160 foto yang terdiri dari 80 laki-laki dan 80 perempuan. Dalam foto tersebut, para subjek tidak menggunakan perhiasan, aksesori, maupun atribut lain yang bisa menunjukkan latar belakang ekonomi mereka.
Untuk menghilangkan petunjuk tambahan, seluruh gambar ditampilkan dalam format hitam putih. Para subjek juga memperlihatkan ekspresi yang cenderung netral sehingga responden diminta menilai hanya berdasarkan karakteristik wajah.
Para peneliti membagi subjek foto menjadi dua kelompok.
Sebanyak 50 persen berasal dari kalangan kaya, sementara 50 persen lainnya merupakan kelompok pekerja.
Selanjutnya, foto-foto tersebut diberikan kepada responden. Mereka diminta memperkirakan apakah orang yang terdapat dalam foto berasal dari kelompok kaya atau kelas pekerja.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa 68 persen responden memberikan jawaban yang sesuai dengan kelompok sosial ekonomi sebenarnya. Yang menarik, para responden ternyata kesulitan menjelaskan dasar dari penilaian tersebut.
“Ketika ditanya bagaimana caranya, mereka tidak tahu. Mereka tidak menyadari bagaimana mereka bisa menebaknya dengan benar,” kata R-Thora Bjorsdottir, dikutip dari berbagai sumber Minggu (30/8/2026).
Peneliti kemudian melakukan pemeriksaan lebih lanjut terhadap sejumlah bagian wajah. Foto diperbesar untuk melihat fitur mana yang paling banyak digunakan responden sebagai dasar penilaian.
Dari pengamatan tersebut, area mata dan mulut diketahui menjadi bagian wajah yang paling membantu responden dalam memperkirakan status sosial ekonomi seseorang.
Studi yang dimuat dalam Journal of Personality and Social Psychology juga menemukan kecenderungan tertentu pada ekspresi wajah kedua kelompok.
Orang dari kelompok ekonomi lebih tinggi cenderung dipersepsikan mempunyai raut wajah yang lebih bahagia dan minim tanda kecemasan. Sebaliknya, kelompok ekonomi lebih rendah lebih sering dinilai memperlihatkan ekspresi yang menunjukkan tekanan.
“Hubungan antara kekayaan dan kelas sosial sudah banyak dibahas dalam penelitian terdahulu. Namun studi ini menemukan bahwa perbedaan kekayaan seseorang bisa tercermin dari wajah setiap orang,” ujarnya.
Peneliti mengaitkan temuan tersebut dengan kondisi emosional yang dapat dipengaruhi keadaan finansial. Seseorang yang memiliki kondisi ekonomi lebih mapan mungkin mengalami lebih sedikit tekanan dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Sebaliknya, persoalan ekonomi dan kebutuhan hidup yang lebih berat dapat menjadi salah satu faktor yang memengaruhi tingkat stres maupun kecemasan seseorang.
Namun, penelitian tersebut juga menyoroti risiko ketika masyarakat terlalu cepat menentukan kelas sosial seseorang hanya berdasarkan penampilan wajah.
Nicholas O. Rule, salah satu peneliti, menyebut persepsi semacam itu dapat membawa dampak dalam kehidupan sosial. Seseorang yang dianggap berasal dari kelompok kaya atau miskin berpotensi mendapatkan perlakuan berbeda.
“Persepsi berbasis wajah tentang kelas sosial mungkin memiliki konsekuensi yang penting… Kita tahu ada yang disebut siklus kemiskinan dan ini berpotensi menjadi salah satu kontributornya,” kata Rule.
Dengan demikian, wajah bukan hanya menjadi bagian dari penampilan fisik. Fitur dan ekspresi tertentu juga dapat memengaruhi persepsi orang lain mengenai latar belakang sosial ekonomi seseorang.
Meski begitu, temuan tersebut tidak dapat dijadikan patokan untuk menentukan apakah seseorang benar-benar kaya atau miskin hanya dari wajahnya. Penilaian berdasarkan tampilan fisik tetap bersifat subjektif dan dapat menghasilkan kesimpulan yang keliru.






