Metapos.id, Jakarta – Fenomena langit berwarna merah darah menyelimuti wilayah Australia Barat saat Siklon Narelle menerjang kawasan barat laut pada Jumat (27/3/2026). Peristiwa ini memicu berbagai gangguan, mulai dari pemadaman listrik dan gas hingga kerusakan bangunan.
Rekaman dari Shark Bay menunjukkan kondisi siang hari yang tiba-tiba berubah gelap dalam hitungan menit. Angin kencang mengangkat debu yang kaya zat besi ke atmosfer, menyebabkan langit berubah menjadi merah pekat serta jarak pandang menurun drastis.
Badan meteorologi setempat mencatat kecepatan angin siklon mencapai lebih dari 124 mil per jam. Siklon Narelle sendiri sebelumnya dikategorikan sebagai badai tropis kategori tiga dengan potensi angin merusak dan curah hujan tinggi.
Wilayah Exmouth dilaporkan menjadi area yang paling terdampak, dengan kerusakan signifikan serta gangguan pada listrik, air, dan jaringan komunikasi. Sementara itu, daerah lain seperti Coral Bay, Geraldton, Kalbarri, dan Carnarvon mengalami dampak yang relatif lebih ringan.
Menteri Layanan Darurat Australia Barat, Paul Papalia, menyatakan pemerintah akan memastikan bantuan bagi warga terdampak selama masa pemulihan.
Selain infrastruktur, sektor pertanian juga terancam, terutama perkebunan pisang di sekitar Carnarvon yang berpotensi rusak akibat terjangan angin kencang.
Para ahli menjelaskan bahwa fenomena langit merah ini terjadi akibat partikel debu yang mengandung oksida besi terangkat ke atmosfer. Fenomena serupa diketahui pernah terjadi sebelumnya di Australia, termasuk pada tahun 2009 saat debu menyelimuti langit hingga ke Sydney.
Meski intensitas siklon mulai melemah, otoritas setempat mengingatkan masyarakat untuk tetap waspada karena kondisi cuaca masih berpotensi berbahaya.














