Metapos.id, Jakarta – Insiden keracunan massal yang dialami ratusan siswa dan tenaga pendidik SMA Negeri 2 Kudus usai mengonsumsi program Makan Bergizi Gratis (MBG) pada Kamis (29/1/2026) memunculkan indikasi adanya persoalan di luar dugaan awal terkait pengelolaan distribusi makanan.
Laporan yang diterima menyebutkan, sekitar 600 siswa sekolah mengalami gangguan kesehatan seperti mual, muntah, dan diare setelah menyantap menu MBG yang disediakan oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Purwosari. Dapur gizi tersebut diketahui baru menjalankan operasionalnya dalam waktu relatif singkat sebelum kejadian.
Sebelumnya, SMA Negeri 2 Kudus telah menjalin kerja sama cukup lama dengan SPPG Yayasan Srikandi Glantengan. Selama periode tersebut, pihak sekolah menegaskan tidak pernah menerima keluhan dari siswa maupun tenaga pengajar terkait kualitas makanan maupun sistem distribusi MBG.
“Selama kerja sama berjalan, tidak ada laporan masalah. Menu dinilai layak dan diterima dengan baik oleh siswa,” kata seorang pegawai sekolah yang meminta identitasnya tidak dipublikasikan, Jumat (30/1/2026).
Pergantian mitra penyedia MBG mulai berlangsung pada Desember 2025. Sekolah disebut mendapat tekanan untuk menghentikan kontrak dengan SPPG sebelumnya dan beralih ke SPPG Purwosari, yang lokasi dapur pengolahannya berada di kawasan pabrik pengolahan kapas milik PTPN IX.
Sumber internal mengungkapkan, pada masa libur sekolah pasca ujian semester, seorang anggota DPRD Kudus bersama aparat mendatangi sekolah dan menggelar pertemuan dengan pimpinan sekolah serta sejumlah guru. Dalam pertemuan itu, pihak sekolah diminta segera melakukan pergantian mitra distribusi MBG.
“Permintaan disampaikan dengan tekanan. Bahkan muncul pernyataan bahwa kepala sekolah bisa dipindahkan jika tidak mengikuti arahan tersebut,” ujar sumber itu.
Untuk menjaga kondusivitas lingkungan sekolah, manajemen SMA 2 Kudus akhirnya menyetujui perubahan kerja sama. Kontrak dengan SPPG Yayasan Srikandi Glantengan secara resmi dihentikan pada 8 Desember 2025.
Tak berselang lama setelah pergantian mitra, peristiwa keracunan massal terjadi. Menu MBG yang dikonsumsi pada hari kejadian terdiri dari soto ayam suwir, tempe, dan tauge, yang disuplai oleh SPPG Purwosari.
Distribusi MBG Dihentikan Sementara
Menanggapi kejadian tersebut, Bupati Kudus Sam’ani Intakoris menetapkan penghentian sementara distribusi MBG di SMA Negeri 2 Kudus terhitung sejak Jumat (30/1/2026).
Pemerintah Kabupaten Kudus akan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap seluruh SPPG, dengan fokus pada penerapan standar kebersihan, proses pengolahan makanan, serta ketepatan waktu pendistribusian.
“Para pengelola SPPG akan kami kumpulkan untuk dilakukan pembinaan agar peristiwa serupa tidak terulang,” kata Sam’ani.
Pemkab Kudus juga memastikan seluruh biaya pemeriksaan dan perawatan korban keracunan di sejumlah rumah sakit ditanggung sepenuhnya melalui BPJS Kesehatan. Bagi korban yang belum terdaftar sebagai peserta, proses pendaftaran akan segera dilakukan.
Sementara itu, Pelaksana Tugas Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Kudus, Mustiko Wibowo, menyampaikan sebanyak 34 siswa menjalani perawatan inap, sedangkan ratusan lainnya menjalani rawat jalan atau pemulihan di rumah masing-masing.
Terpisah, Kepala SPPG Purwosari, Nasihul Umam, telah menyampaikan permohonan maaf kepada pihak sekolah dan masyarakat serta menyatakan kesiapannya untuk bertanggung jawab dan melakukan evaluasi internal atas insiden tersebut.













