Metapos.id, Jakarta — Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi (KDM) mulai menjadi salah satu nama yang diperbincangkan dalam peta kandidat Pemilihan Presiden (Pilpres) 2029.
Sorotan terhadap KDM tidak terlepas dari popularitas serta tingkat elektabilitasnya yang dinilai terus menguat. Kondisi tersebut kemudian memunculkan anggapan bahwa KDM berpotensi masuk dalam persaingan politik tingkat nasional.
Pembahasan mengenai peluang KDM maju pada Pilpres 2029 turut muncul dalam sebuah sesi diskusi antara pengamat politik Adi Prayitno dan seorang penanya bernama Iwan. Dalam kesempatan itu, Iwan menyoroti kiprah KDM sebagai Gubernur Jawa Barat yang dinilai cukup menonjol sekaligus memiliki elektabilitas tinggi.
Adi menjelaskan bahwa kemunculan nama kepala daerah dalam bursa kepemimpinan nasional merupakan fenomena yang lazim terjadi. Terlebih, gubernur memiliki panggung politik yang cukup besar sehingga kerap menjadi perhatian ketika memiliki popularitas di tengah masyarakat.
Ia kemudian mengingatkan kembali sejumlah figur yang perjalanan politiknya dimulai dari pemerintahan daerah. Salah satunya Joko Widodo yang pernah menjadi Wali Kota Solo, lalu menjabat Gubernur DKI Jakarta sebelum akhirnya terpilih sebagai presiden.
Fenomena serupa juga pernah terlihat pada sejumlah kepala daerah lainnya. Nama Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), Anies Baswedan, dan Ganjar Pranowo sempat menjadi bagian dari pembicaraan mengenai kandidat potensial dalam kontestasi politik nasional.
“Fenomena-fenomena orang yang dilihat punya potensi untuk bisa maju berkompetisi sebagai calon pemimpin, itu salah satunya dari gubernur,” ujar Adi. dikutip dari kanal youtube Adi Prayitno Official, Kamis (3/09/26).
Menurut Adi, tingginya tingkat pengenalan publik terhadap seorang kepala daerah dapat menjadi salah satu alasan munculnya spekulasi mengenai peluang mereka menuju panggung politik nasional.
Selain kepala daerah, bursa kandidat presiden juga dapat diisi oleh figur dari kalangan pemerintah pusat. Ia mencontohkan Erick Thohir dan Sandiaga Uno yang sebelumnya juga sempat ramai diperbincangkan sebagai kandidat potensial dalam Pilpres.
“Publik itu sangat memperhatikan bagaimana perkembangan yang ada di negara kita, dari calon yang akan bermunculan di masa-masa yang akan datang,” katanya.
Isu KDM Bergabung dengan PSI
Pembicaraan mengenai KDM kemudian berkembang ke isu politik lain, yakni kabar mengenai kemungkinan dirinya bergabung dengan Partai Solidaritas Indonesia (PSI).
Wacana tersebut menarik perhatian karena perjalanan politik KDM sebelumnya juga berkaitan dengan Partai Golkar dan Partai Gerindra. Perpindahan kendaraan politik, jika benar terjadi, dinilai dapat memengaruhi peta persaingan menuju Pilpres 2029.
Bahkan, muncul spekulasi bahwa apabila KDM memilih kendaraan politik baru dan maju sebagai calon presiden, ia dapat berhadapan langsung dengan Prabowo Subianto.
Namun, Adi meminta agar wacana tersebut tidak disimpulkan terlalu cepat. Menurutnya, belum ada kepastian mengenai rencana KDM untuk meninggalkan partai yang saat ini menaunginya.
“Saya nggak tahu persis soal kemungkinan KDM akan pindah ke partai lain apa pun alasannya. Per hari ini Gerindra juga masih menjadi bagian penting dan KDM juga masih bagian dari Gerindra,” ujarnya.
Karena itu, Adi menilai belum tepat apabila sejak sekarang KDM ditempatkan sebagai calon yang akan berhadapan dengan Prabowo dalam Pilpres 2029.
“Jadi kalau kemudian menghadapkan KDM dengan Prabowo nggak masuk akal,” tegasnya.
Menurutnya, perjalanan menuju Pilpres 2029 masih cukup panjang. Dinamika politik, arah dukungan partai, serta keputusan pribadi KDM akan menjadi sejumlah faktor yang menentukan apakah dirinya benar-benar masuk dalam bursa calon presiden.
Untuk saat ini, pembahasan mengenai KDM sebagai kandidat Pilpres 2029 masih sebatas bagian dari dinamika dan spekulasi politik yang berkembang di tengah masyarakat.







