Metapos.id, Jakarta – Hujan mengguyur Kota Palembang, Sumatera Selatan, selama tiga hari berturut-turut sejak Sabtu (24/10/2026). Kondisi ini menjadi harapan baru bagi warga setelah berbulan-bulan menghadapi kemarau panjang dan kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Warga Palembang, Indra, menyambut positif turunnya hujan yang diharapkan mampu memperbaiki kualitas udara di wilayah tersebut.
“Alhamdulillah, Palembang sudah 3 hari berturut-turut turun hujan setelah dilanda musim kemarau dan kabut asap,” kata Indra kepada wartawan, Senin (26/10/2026).
Meski demikian, Indra berharap hujan tidak hanya berlangsung sebentar. Ia menginginkan curah hujan yang lebih lama agar kabut asap karhutla segera lenyap dari Palembang.
“Kalau bisa hujan tidak hanya sesaat, agar kabut asap karhutla tidak ada lagi,” harapnya.
Dampak kabut asap juga dirasakan para pelaku usaha. Tur, seorang pedagang di Palembang, mengatakan kondisi tersebut membuat jumlah pembeli menurun sehingga aktivitas perdagangan ikut terdampak.
Ia berharap hujan yang turun dapat membantu memulihkan keadaan, sehingga masyarakat kembali beraktivitas seperti biasa dan penjualan kembali meningkat.
“Berharap hujan ini berkah dan dagangannya kembali normal dan laris kembali,” ujar Tur.
Selain persoalan kabut asap, kemarau panjang sebelumnya turut menyulitkan warga dalam memenuhi kebutuhan air bersih. Yuli, warga Lorong Sepakat, Kelurahan 8 Ulu, Palembang, mengaku harus membeli air dengan harga cukup mahal untuk keperluan sehari-hari.
“Dengan turunnya hujan hari ini kami sangat senang karena tidak lagi harus membeli air untuk kebutuhan sehari-hari selama beberapa hari ke depan,” ujarnya mengutip Antara.
Sementara itu, Kepala Stasiun Meteorologi Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang, Siswanto, menyebut pengamatan atmosfer oleh BMKG pada Sabtu (24/10/2026) telah menunjukkan adanya potensi pembentukan awan hujan.
Ia menjelaskan, dinamika angin vertikal berperan dalam memecah lapisan inversi atmosfer yang sebelumnya menahan polutan asap di dekat permukaan tanah. Kondisi tersebut turut mendukung peluang turunnya hujan di Palembang dan sekitarnya.
Upaya Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) yang dilakukan tim gabungan juga menjadi salah satu faktor pendukung. Penyemaian bahan NaCl dilakukan untuk membantu proses pembentukan awan hujan sesuai kondisi atmosfer yang terpantau.
“Hujan di Palembang dan sekitarnya hari ini dapat kami sampaikan bahwa secara dinamika atmosfer memang mendukung pembentukan awan hujan dan ditambah dampak dari OMC dengan bahan semai NaCl. Memang secara data model pada 24 Oktober 2026 diprakirakan akan ada potensi pertumbuhan awan hujan sehingga tim memaksimalkan dengan OMC,” ujarnya.







