Metapos.id, Jakarta – Sejumlah negara masih menjadi pemain utama dalam industri pertambangan emas global. Berdasarkan laporan Mineral Commodity Summaries 2026 dari U.S. Geological Survey (USGS), total produksi emas tambang dunia pada 2025 diperkirakan mencapai 3.300 ton.
China memimpin daftar produsen emas terbesar, diikuti Rusia dan Australia. Indonesia belum menembus 10 besar berdasarkan jumlah produksi tahunan, tetapi memiliki cadangan emas yang cukup besar dibandingkan sejumlah negara produsen utama.
Berikut peringkat 10 negara dengan produksi emas tambang tertinggi di dunia berdasarkan data USGS.
1. China, 380 ton
China menjadi produsen emas terbesar dunia dengan volume produksi sekitar 380 ton pada 2025. Industri pertambangan yang besar dan aktivitas eksplorasi menjadi bagian dari faktor yang menopang produksi negara tersebut.
USGS memperkirakan cadangan emas China mencapai 3.200 ton. Sementara itu, China Gold Association melaporkan produksi sekitar 381,3 ton, dengan selisih angka yang berkaitan dengan perbedaan sumber data dan metode perhitungan.
2. Rusia, 310 ton
Rusia menempati posisi kedua dengan hasil tambang emas sekitar 310 ton pada 2025. Negara ini memiliki sumber daya mineral yang tersebar luas dan cadangan emas yang diperkirakan mencapai 12.000 ton.
3. Australia, 280 ton
Australia berada di urutan ketiga dengan produksi sekitar 280 ton. Negara ini memiliki cadangan emas sekitar 13.000 ton, tertinggi di antara negara-negara dalam daftar, serta didukung oleh industri pertambangan berskala besar.
4. Kanada, 200 ton
Kanada menghasilkan sekitar 200 ton emas pada 2025. Cadangan emasnya diperkirakan mencapai 3.200 ton, dengan kegiatan pertambangan yang berlangsung di sejumlah wilayah.
Industri mineral menjadi salah satu sektor yang berkontribusi terhadap perekonomian Kanada, termasuk melalui produksi dan pengelolaan berbagai komoditas tambang.
5. Amerika Serikat, 160 ton
Produksi emas Amerika Serikat mencapai sekitar 160 ton pada 2025, dengan cadangan diperkirakan sebesar 3.000 ton. Nevada menjadi salah satu pusat pertambangan emas utama yang menopang produksi nasional.
6. Ghana, 150 ton
Ghana mencatat produksi emas sekitar 150 ton pada 2025. Negara di Afrika Barat ini menjadi salah satu produsen utama di kawasan tersebut, dengan cadangan emas yang diperkirakan mencapai 1.000 ton.
Komoditas emas memiliki peran penting dalam kegiatan pertambangan dan ekspor Ghana.
7. Meksiko, 140 ton
Meksiko berada di peringkat ketujuh dengan produksi emas sekitar 140 ton. Cadangan emas negara ini diperkirakan mencapai 1.400 ton, menjadikannya salah satu pemain dalam industri pertambangan mineral di Amerika Latin.
8. Kazakhstan, 130 ton
Kazakhstan menghasilkan sekitar 130 ton emas pada 2025. Negara di Asia Tengah ini memiliki cadangan emas sekitar 2.300 ton dan menjadikan sektor pertambangan sebagai salah satu bagian penting dalam kegiatan ekonominya.
9. Uzbekistan, 130 ton
Uzbekistan mencatat produksi emas sekitar 130 ton, setara dengan Kazakhstan berdasarkan angka yang dibulatkan dalam daftar. Negara ini diperkirakan memiliki cadangan emas sebesar 2.200 ton, dengan emas menjadi salah satu komoditas penting dalam sektor pertambangan dan ekspor.
10. Peru, 110 ton
Peru menutup daftar 10 besar dengan produksi emas sekitar 110 ton pada 2025. Cadangan emasnya diperkirakan mencapai 2.200 ton, sementara industri pertambangan menjadi salah satu sektor yang berperan dalam perekonomian negara Amerika Selatan tersebut.
Indonesia Belum Masuk 10 Besar Produsen Emas
Indonesia masih berada di luar 10 besar negara penghasil emas dunia berdasarkan volume produksi tambang. Pada 2025, produksi emas nasional diperkirakan mencapai sekitar 90 ton, terpaut cukup jauh dari China yang memimpin dengan sekitar 380 ton.
Namun, posisi Indonesia cukup menonjol dari sisi cadangan. USGS memperkirakan cadangan emas Indonesia mencapai 3.600 ton, lebih tinggi dibandingkan angka cadangan China, Kanada, dan Amerika Serikat dalam laporan tersebut.
Besarnya cadangan tidak selalu berarti produksi tahunan juga tinggi. Volume emas yang dapat ditambang dipengaruhi berbagai faktor, termasuk pengembangan tambang, kapasitas produksi, teknologi, dan kegiatan operasional.







