Metapos.id, Jakarta – Gunung Papandayan di Kabupaten Garut, Jawa Barat, mengeluarkan api biru atau blue fire seperti yang dikenal di Kawah Ijen. Fenomena tersebut sempat membuat jalur pendakian dan area perkemahan ditutup sementara.
Dosen Departemen Geofisika dan Meteorologi IPB University Sonni Setiawan menjelaskan blue fire terjadi akibat pembakaran gas belerang yang keluar melalui rekahan vulkanik.
“Mekanisme blue fire adalah ketika magma di bawah Papandayan melepaskan gas hidrogen sulfida (H2S) dan sulfur dioksida (SO2) bersuhu sekitar 200-600 derajat Celsius melalui rekahan fumarol atau solfatara,” jelas Sonni, dikutip dari berbagai sumber, Kamis (01/10/2026).
Gas H2S yang keluar melalui rekahan kemudian bereaksi dengan oksigen di udara dan mengalami pembakaran. Reaksi tersebut menghasilkan sulfur dioksida, uap air, panas, serta nyala api berwarna biru.
“Pembakaran gas belerang inilah yang menghasilkan nyala api berwarna biru elektrik, dengan suhu api dapat mencapai sekitar 600 derajat Celsius,” ujarnya.
Blue fire di Papandayan muncul di area fumarol aktif atau lubang tempat gas vulkanik keluar ke atmosfer, seperti Blok Mas dan kawasan Golden Sunrise. Fenomena ini lebih mudah terlihat pada malam hari ketika kondisi benar-benar gelap, terutama sekitar pukul 02.00-05.00 WIB.
Fenomena tersebut bukan pertama kalinya terjadi di Gunung Papandayan. Aktivitas serupa mulai muncul setelah erupsi pada November 2002 yang menghasilkan fumarol dan rekahan baru di kawasan Kawah Mas, Kawah Baru, dan Nangklak.
“Setelah erupsi 2002, banyak rekahan baru terbuka. Gas yang sebelumnya menyebar kemudian menjadi lebih terpusat pada celah-celah sempit dengan tekanan yang lebih tinggi. Ketika bercampur dengan udara, gas tersebut dapat terbakar dan menghasilkan blue fire,” kata Sonni.
Berdasarkan catatan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), aktivitas vulkanik Gunung Papandayan mengalami peningkatan. Kondisi tersebut ditandai dengan meningkatnya aliran SO2 dan aktivitas gempa vulkanik dangkal.
Suhu fumarol juga meningkat dari sebelumnya sekitar 150 derajat Celsius menjadi 300-400 derajat Celsius.
“Pada suhu tersebut, gas H2S dapat terbakar secara spontan tanpa perlu disulut, sehingga kemunculan api menjadi lebih sering terlihat,” jelas Sonni.
Sonni mengimbau masyarakat tidak mendekati lokasi blue fire karena gas vulkanik seperti SO2 berbahaya bagi pernapasan. Tanah di sekitar fumarol juga dapat menjadi rapuh akibat paparan suhu tinggi.
“Jika melakukan pengamatan pada malam hari, keselamatan harus menjadi prioritas. Masker kain biasa tidak cukup untuk menghadapi paparan gas vulkanik. Jangan mendekati lubang fumarol karena selain gasnya beracun, struktur tanah di sekitarnya juga dapat rapuh,” pungkasnya.







