Metapos.id, Jakarta – Cuaca kering diperkirakan masih mendominasi sebagian besar wilayah Indonesia dalam beberapa waktu ke depan. BMKG memprediksi musim hujan baru mulai memasuki sejumlah wilayah pada pertengahan Oktober 2026.
Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani menyampaikan, potensi pembentukan awan dalam 10 hari mendatang masih tergolong rendah di banyak daerah.
Wilayah yang diperkirakan mengalami kondisi tersebut mencakup Jawa, Bali, Nusa Tenggara, sebagian Kalimantan, Maluku, hingga sejumlah wilayah Papua.
Situasi ini membuat periode kemarau masih berpotensi berlangsung lebih lama di wilayah tersebut. Masyarakat juga diminta tetap memperhatikan kondisi cuaca serta potensi dampak yang dapat muncul akibat periode kering.
BMKG turut memberikan perhatian terhadap kemunculan titik panas yang dapat menjadi indikasi awal terjadinya kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Empat provinsi yang menjadi fokus pemantauan saat ini adalah Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Papua Selatan, dan Kalimantan Timur.
Di tengah kondisi tersebut, BMKG juga melakukan operasi modifikasi cuaca (OMC) di wilayah Jakarta. Upaya ini dilakukan sebagai bagian dari penanganan kondisi kualitas udara yang memburuk akibat minimnya hujan.
Teuku mengatakan, hujan yang turun di Jakarta pada Rabu (19/8/2026) bukan hasil dari operasi modifikasi cuaca. Hujan tersebut terjadi secara alami setelah adanya pertemuan massa udara basah dari Samudra Hindia dan Samudra Pasifik.
Sebelumnya, pelaksanaan OMC memang dihentikan sementara karena BMKG melihat adanya peluang hujan alami. Kondisi atmosfer saat itu dinilai cukup mendukung terbentuknya hujan tanpa intervensi modifikasi cuaca.
Fenomena hujan lokal tetap dapat terjadi meski sebagian besar wilayah Indonesia masih menghadapi musim kemarau. Dinamika atmosfer dan pergerakan massa udara menjadi salah satu faktor yang dapat memicu turunnya hujan di wilayah tertentu.






