Metapos.id, Jakarta — Aktivitas belajar siswa di sejumlah wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) terdampak gempa mulai mendapat dukungan fasilitas sementara. Pemerintah menyiapkan ruang belajar alternatif agar kegiatan pendidikan tetap dapat berjalan dengan aman.
Melalui Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), sebanyak 50 tenda disiapkan untuk digunakan sebagai ruang kelas sementara. Tenda-tenda tersebut rencananya didistribusikan ke beberapa wilayah terdampak di Pulau Flores.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti menjelaskan bahwa penyediaan ruang belajar alternatif menjadi bagian dari upaya menjaga keberlangsungan pendidikan sekaligus memberikan perlindungan kepada warga sekolah.
“Keselamatan warga sekolah menjadi prioritas, dan proses pemulihan pendidikan akan kami kawal bersama pemerintah daerah hingga pembelajaran kembali berlangsung dengan aman dan nyaman,” kata Mu’ti dikutip dari berbagai sumber, (5/9/26).
Berdasarkan pencatatan Kemendikdasmen hingga 16 Agustus, gempa tersebut berdampak terhadap 253 satuan pendidikan. Sebanyak 199 satuan pendidikan merupakan PAUD/TK, SD, SMP, dan SKB yang berada dalam kewenangan kabupaten.
Adapun 54 satuan pendidikan lainnya mencakup SMA, SMK, dan SLB yang menjadi tanggung jawab pemerintah provinsi.
Tujuh kabupaten di Flores menjadi wilayah yang mendapatkan penanganan Kemendikdasmen. Daerah tersebut mencakup Ngada, Nagekeo, Ende, Manggarai, Manggarai Timur, Manggarai Barat, dan Sikka.
Kabupaten Manggarai Timur menjadi daerah dengan jumlah satuan pendidikan terdampak paling banyak. Dari 104 satuan pendidikan yang terkena dampak, 51 di antaranya berasal dari jenjang SD dan SMP/MTs.
Jumlah tersebut terdiri atas 33 SD dan 18 SMP/MTs. Sementara di Manggarai Barat, terdapat 52 satuan pendidikan yang turut terdampak gempa.
“Selain kerusakan bangunan, musibah gempa bumi juga menelan korban jiwa dari lingkungan satuan pendidikan yakni dua orang murid dan satu orang guru,” ucap Mu’ti.
Sekolah Rusak Diminta Hentikan Pembelajaran di Ruang Terdampak
Kemendikdasmen mengarahkan sekolah yang mengalami kerusakan agar tidak menggunakan ruang kelas yang terdampak gempa. Langkah tersebut dilakukan untuk menghindari potensi bahaya selama proses pemulihan berlangsung.
Sekolah yang masih memiliki ruangan layak dapat memindahkan kegiatan belajar ke lokasi tersebut. Sementara sekolah lainnya dapat memanfaatkan tenda belajar atau menghentikan pembelajaran sementara sesuai tingkat kerusakan dan situasi di wilayah masing-masing.
“Kami juga menyiapkan dukungan psikososial melalui kerja sama dengan HIMPSI. Layanan tersebut akan segera bergerak setelah tim pendahuluan memberikan konfirmasi kondisi lapangan,” ucap dia.
Selain menyediakan ruang belajar alternatif, pemerintah mendorong sekolah yang masih aman untuk segera dibersihkan sehingga dapat kembali digunakan.
Kebutuhan sarana dan perlengkapan belajar juga menjadi perhatian. Kemendikdasmen berkoordinasi untuk memanfaatkan anggaran belanja tambahan guna mendukung proses pemulihan sekolah.
“Langkah selanjutnya adalah mendorong pembersihan sekolah yang masih aman digunakan serta mengoordinasikan pemanfaatan anggaran belanja tambahan untuk kebutuhan sarana dan alat belajar,” sambungnya.
Dukungan juga diberikan untuk mengatasi kendala komunikasi di wilayah terdampak. Kemendikdasmen menyiapkan konektivitas internet menggunakan Starlink bagi daerah yang mengalami gangguan listrik dan jaringan komunikasi.
“Tim lintas direktorat di Kemendikdasmen juga mulai bergerak ke lapangan untuk mempercepat asesmen, verifikasi kerusakan, dan koordinasi pemulihan layanan pendidikan,” tutur Mu’ti.
Berbagai langkah tersebut dilakukan untuk mempercepat pemulihan layanan pendidikan di Flores. Pemerintah juga berupaya memastikan kegiatan belajar siswa dapat kembali berlangsung dengan memperhatikan kondisi dan keselamatan di setiap sekolah.






