Metapos.id, Jakarta – Kaki yang mengeluarkan bau tidak sedap sering kali menjadi masalah setelah beraktivitas sepanjang hari. Penggunaan sepatu dan kaus kaki dalam durasi panjang dapat memperparah kondisi tersebut, tetapi kebersihan bukan satu-satunya faktor yang memengaruhinya.
Keringat berlebih, aktivitas bakteri, infeksi jamur, serta gangguan kesehatan tertentu juga bisa menjadi pemicu. Mengetahui penyebabnya penting agar bau kaki dapat ditangani secara tepat.
Secara medis, kondisi ini disebut bromodosis. Bau muncul ketika bakteri yang berada di permukaan kulit dan sepatu memecah keringat hingga menghasilkan senyawa beraroma tidak sedap.
Dokter spesialis perawatan kaki Joy Rowland, DPM, menerangkan bahwa lingkungan yang hangat, lembap, dan gelap menjadi tempat ideal bagi bakteri serta jamur untuk berkembang.
“Bakteri, jamur, dan berbagai mikroorganisme kecil lainnya sangat menyukai kondisi yang hangat, lembap, dan gelap, dan bagian dalam sepatu Anda adalah tempat yang paling ideal untuk itu,” katanya.
Penyebab Kaki Bau
Keringat yang diproduksi secara berlebihan menjadi salah satu faktor yang dapat memicu bau kaki. Produksinya dipengaruhi berbagai hal, mulai dari suhu udara, intensitas olahraga, jenis sepatu, faktor genetik, perubahan hormon, kondisi kesehatan, hingga stres.
Keringat yang terus berlebihan, bahkan ketika seseorang tidak sedang banyak bergerak, dapat mengindikasikan hiperhidrosis. Kondisi ini merupakan gangguan yang menyebabkan tubuh menghasilkan keringat dalam jumlah lebih banyak dari kebutuhan normal.
Penyebab lainnya adalah infeksi jamur, seperti athlete’s foot. Infeksi ini lebih mudah berkembang ketika kaki sering berada dalam kondisi lembap, termasuk saat menggunakan fasilitas umum seperti ruang ganti.
Bakteri juga dapat menimbulkan bau, terutama jika kaki mengalami luka, lepuhan, kuku tumbuh ke dalam, atau infeksi kulit.
Selain faktor tersebut, sejumlah penyakit dapat memengaruhi aroma kaki. Gangguan fungsi ginjal dan hati, misalnya, berpotensi menyebabkan penumpukan zat sisa dalam tubuh yang seharusnya diproses oleh organ tersebut.
Diabetes juga perlu mendapat perhatian karena dapat memengaruhi produksi keringat dan menurunkan kemampuan merasakan luka pada kaki. Akibatnya, luka yang tidak terdeteksi berisiko mengalami infeksi.
Beberapa jenis obat juga bisa memicu peningkatan keringat atau perubahan bau tubuh. Jika keluhan muncul setelah penggunaan obat tertentu, konsultasi dengan dokter diperlukan untuk mengevaluasi kemungkinan penyebabnya.
Cara Mengurangi Bau Kaki
Mengendalikan kelembapan merupakan salah satu langkah penting untuk mengurangi bau kaki. Rowland menyarankan penggunaan kaus kaki dan sepatu dengan bahan yang mendukung pertukaran udara sehingga keringat tidak mudah terperangkap.
Kaus kaki berbahan katun, wol yang menyerap kelembapan, atau bahan sintetis yang dirancang khusus dapat dipertimbangkan. Sepatu yang telah digunakan sebaiknya dikeringkan sebelum dipakai kembali.
Penggunaan sepatu secara bergantian juga dapat membantu menjaga bagian dalamnya tetap kering. Dengan memberikan waktu bagi sepatu untuk mengering, penumpukan keringat dan bakteri akibat pemakaian berulang dapat dikurangi.
Rowland turut merekomendasikan sepatu berbahan alami, seperti katun atau kulit, karena bahan tersebut dapat membantu kelembapan menguap.
“Bahan-bahan alami ini memungkinkan kelembapan pada kaki Anda menguap. Bahan buatan manusia, seperti nilon atau plastik, justru memerangkap kelembapan,” ujarnya.
Kebersihan kaki tetap perlu dijaga dengan mencucinya secara rutin dan memastikan seluruh bagian kaki, terutama sela-sela jari, benar-benar kering sebelum mengenakan kaus kaki.
Jika bau tetap muncul meskipun perawatan kebersihan telah dilakukan, pemeriksaan medis sebaiknya dipertimbangkan. Bau yang menetap atau disertai luka dan tanda infeksi perlu diperiksa agar penyebabnya dapat diketahui dan memperoleh penanganan yang sesuai.







