Metapos.id, Jakarta – Kematian unta meningkat di sejumlah wilayah gurun seiring suhu ekstrem yang semakin sering terjadi, hingga hewan yang dikenal mampu bertahan dalam kondisi panas mulai kesulitan beradaptasi.
Pakar Genetika Ekologi IPB University Prof Ronny R Noor mengatakan suhu di wilayah gurun dalam satu dekade terakhir kerap mencapai 50-55 derajat Celcius.
Kondisi tersebut dapat menyebabkan berbagai gangguan pada unta, mulai dari luka lepuh, dehidrasi, gagal ginjal hingga kematian.
“Fenomena suhu ekstrem yang meningkat di gurun pasir, sampai-sampai bahkan unta pun tidak mampu bertahan, benar-benar menunjukkan adanya krisis iklim yang sangat serius,” ujar Prof Ronny, dikutip dari berbagai sumber, Sabtu (05/09/2026).
Dampaknya dilaporkan terjadi di sejumlah negara, termasuk Somalia yang mencatat sekitar 73 persen unta mati di wilayah Sool, sementara di Kenya kematian unta meningkat 15 persen dalam dua tahun terakhir akibat hipertermia.
Padahal, unta memiliki mekanisme fisiologis khusus untuk menghadapi panas dengan kemampuan mengubah suhu tubuh dari sekitar 34 derajat Celcius pada malam hari menjadi 41 derajat Celcius pada siang hari tanpa banyak berkeringat.
Mekanisme tersebut memungkinkan unta menghemat penggunaan air, tetapi kemampuan adaptasinya mulai berkurang ketika suhu lingkungan melewati 45 derajat Celcius.
Kondisi panas ekstrem dapat memicu kerusakan ginjal, gangguan metabolisme hingga kegagalan organ pada unta.
“Pada suhu ekstrem di atas 50°C, bahkan unta yang sehat dapat mengalami hipertermia serius dalam beberapa jam jika tidak memiliki akses terhadap air atau tempat perlindungan,” katanya.
Tekanan panas juga semakin berat akibat kekeringan dan desertifikasi yang mengurangi sumber air serta vegetasi di wilayah gurun.
“Sayangnya, eksploitasi lahan dan desertifikasi semakin memperburuk kondisi ini, sehingga semuanya menjadi semakin sulit,” tambahnya.
Di Ethiopia, peternak di wilayah Afar dilaporkan kehilangan delapan anak unta dalam sebulan akibat suhu ekstrem.
Kematian unta juga berdampak langsung terhadap masyarakat gurun yang selama ini mengandalkan hewan tersebut untuk memperoleh susu, daging hingga kebutuhan transportasi.
“Jika unta, simbol kekuatan gurun, tidak lagi mampu bertahan, masyarakat gurun seperti suku Badui di Sahara dan komunitas Bedouin di Timur Tengah tentunya akan menghadapi tantangan besar dalam menjaga keberlangsungan hidup mereka,” ujar Prof Ronny.
Menurutnya, meningkatnya kematian unta menjadi sinyal bahwa perubahan iklim mulai melampaui kemampuan adaptasi sejumlah makhluk hidup.
Karena itu, pengelolaan sumber air, pengembangan tanaman tahan panas serta berbagai langkah adaptasi dinilai semakin mendesak dilakukan.







