Metapos.id, Jakarta — Kedutaan Besar Rusia untuk Indonesia menepis informasi yang menyebut delapan warga negara Indonesia (WNI) bergabung dalam Angkatan Bersenjata Rusia.
Rusia mempertanyakan bukti yang disampaikan pihak Ukraina terkait dugaan tersebut. Menurut Kedubes Rusia, dokumen yang beredar belum menunjukkan adanya keterlibatan delapan WNI dalam aktivitas militer.
Dokumen yang dipublikasikan Kedutaan Besar Ukraina disebut terdiri atas salinan e-visa dan kartu migrasi. Rusia menilai kedua dokumen tersebut hanya menunjukkan adanya perjalanan ke Rusia dan tidak secara otomatis membuktikan seseorang menjadi anggota militer.
“Ini merupakan kampanye disinformasi yang didorong propaganda. Salinan e-visa dan kartu migrasi untuk perjalanan wisata yang dipublikasikan Kedutaan Besar Ukraina bukan merupakan bukti bergabungnya seseorang dalam dinas militer,” demikian pernyataan resmi Kedubes Rusia yang dikutip dari berbagai sumber, Sabtu (5/9/2026).
Atase Bidang Pers dan Media Kedubes Rusia untuk Indonesia, Alexander Tumaykin, memastikan bahwa pernyataan mengenai isu tersebut memang dikeluarkan secara resmi oleh Kedutaan Besar Rusia.
“Ya, ini pernyataan resmi oleh Kedubes,” ujar Alexander kepada Kompas.com.
Selain membantah tudingan terhadap delapan WNI, Kedubes Rusia juga melontarkan tuduhan balik kepada Ukraina. Rusia menyebut Ukraina tengah melakukan perekrutan warga asing untuk memperkuat militernya.
Menurut Rusia, langkah tersebut berkaitan dengan tingginya kerugian yang dialami Ukraina selama perang. Kedubes Rusia menyatakan jumlah korban dalam konflik tersebut mencapai lebih dari 700.000 orang meninggal dan sekitar 1 juta lainnya mengalami luka.
Kendati demikian, Kedubes Rusia tidak memberikan keterangan mengenai sumber data yang digunakan untuk menyebut angka korban tersebut.
Pihak Rusia turut menyoroti pernyataan Kementerian Pertahanan Ukraina yang sebelumnya menyebut kemungkinan komposisi personel militer asing mencapai 30 hingga 50 persen dalam jangka panjang.
Kedubes Rusia menuding Ukraina memanfaatkan jaringan diplomatik dan sejumlah organisasi yang berada di luar negeri untuk mendapatkan warga asing. Perekrutan itu, menurut Rusia, dilakukan dengan cara memberikan informasi yang menyesatkan.
“Puluhan ribu warga negara dari negara-negara lain saat ini bertugas di tentara Ukraina. Ribuan orang tewas, warga negara Indonesia juga termasuk di antaranya,” demikian pernyataan Kedubes Rusia.
Isu mengenai delapan WNI tersebut juga dikaitkan Kedubes Rusia dengan keberadaan Presiden Prabowo Subianto di Rusia.
Prabowo saat itu menghadiri XI Eastern Economic Forum (EEF) di Vladivostok. Kedubes Rusia menilai waktu publikasi informasi mengenai dugaan delapan WNI menjadi tentara Rusia memiliki kaitan dengan kunjungan tersebut.
Rusia berpandangan penyebaran informasi tersebut dapat memengaruhi hubungan diplomatik antara Indonesia dan Rusia.
“Jelas bahwa kampanye disinformasi anti-Rusia yang dilakukan Kedutaan Besar Ukraina bertepatan dengan keikutsertaan Presiden Indonesia Prabowo Subianto dalam XI Eastern Economic Forum di Vladivostok dan bertujuan merusak hubungan Rusia-Indonesia,” demikian pernyataan Kedubes Rusia.







