Metapos.id, Jakarta – Pemerintah Iran belum memutuskan untuk kembali melakukan perundingan tidak langsung dengan Amerika Serikat di tengah komunikasi yang masih berlangsung melalui sejumlah negara mediator.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menegaskan pertukaran pesan dengan Qatar dan Pakistan tidak dapat dianggap sebagai tanda bahwa negosiasi dengan Washington telah dimulai kembali.
Araghchi juga membantah adanya pembahasan mengenai perpanjangan gencatan senjata selama 60 hari dengan Amerika Serikat.
“Yang tercantum dalam memorandum Islamabad adalah berakhirnya perang, bukan gencatan senjata. AS melanggar memorandum tersebut dan pertempuran kembali terjadi. Karena itu, tidak ada gencatan senjata 60 hari yang perlu diperpanjang,” tegas Araghchi kepada ISNA, dikutip dari berbagai sumber, Jumat (14/08/2026).
Menurut Araghchi, periode 60 hari dalam Memorandum Islamabad yang dimediasi Pakistan pada Juni lalu disiapkan sebagai waktu untuk melakukan perundingan hingga tercapai kesepakatan akhir.
Ia mengatakan saluran komunikasi dengan Qatar dan Pakistan masih terbuka, tetapi kondisi tersebut tidak berarti Iran telah memutuskan kembali ke meja perundingan dengan AS.
“Baik Qatar dan Pakistan masih terus bertukar pesan dan berkomunikasi dengan kami, tetapi itu bukan berarti negosiasi. Belum ada keputusan untuk kembali berunding dengan AS,” ujarnya.
Di sisi lain, Iran tengah melakukan pembahasan teknis dengan Oman terkait rute pelayaran baru di Selat Hormuz.
“Saat ini kami sedang merancang rute sementara yang nantinya akan menjadi rute permanen,” kata Araghchi.
Perancangan jalur tersebut melibatkan tim ahli dan unsur militer Iran, tetapi Araghchi menegaskan pembahasan itu tidak berkaitan dengan dialog politik bersama AS.
“Setelah rute ditentukan, keputusan mengenai apakah Selat Hormuz akan dibuka kembali bergantung pada pemenuhan persyaratan lainnya yang harus dipatuhi AS,” ucapnya.







