Metapos.id, Jakarta – PT Pemeringkat Efek Indonesia (PEFINDO) mencatat penerbitan surat utang korporasi pada semester I 2026 mencapai Rp87,35 triliun. Nilai tersebut memang turun tipis 3,91 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang mencapai Rp90,90 triliun, namun aktivitas penerbitan dinilai masih tetap solid.
PEFINDO menjelaskan, kebutuhan pembiayaan kembali (refinancing) serta biaya pendanaan di pasar surat utang yang lebih kompetitif dibandingkan pinjaman perbankan menjadi faktor utama yang menopang penerbitan obligasi korporasi sepanjang paruh pertama tahun ini.
Perusahaan juga memanfaatkan momentum penurunan yield pada awal tahun, terutama selama Januari hingga Februari 2026, untuk memperoleh pendanaan melalui pasar surat utang. Selama semester I 2026, nilai penerbitan bahkan masih lebih tinggi dibandingkan total surat utang yang jatuh tempo, dengan rasio penerbitan terhadap jatuh tempo mencapai 140,3 persen.
Dari sisi kualitas kredit, penerbitan surat utang masih didominasi oleh emiten dengan peringkat tinggi, terutama kategori AAA dan A. Sementara itu, emiten berperingkat Prime juga memanfaatkan kondisi biaya dana yang relatif rendah untuk memperoleh pendanaan.
PEFINDO juga mencatat emiten swasta masih menjadi kontributor terbesar dalam penerbitan surat utang korporasi. Selain untuk kebutuhan refinancing, porsi penerbitan yang digunakan sebagai modal kerja dan investasi mulai meningkat seiring membaiknya aktivitas dunia usaha.
Untuk keseluruhan tahun 2026, PEFINDO memproyeksikan penerbitan surat utang korporasi berada pada kisaran Rp154 triliun hingga Rp196,86 triliun, dengan titik tengah sekitar Rp175,77 triliun. Proyeksi tersebut didukung tingginya kebutuhan refinancing serta kondisi likuiditas pasar yang masih kondusif.
Kepala Divisi Riset Ekonomi PEFINDO, Suhindarto, mengatakan meski realisasi penerbitan pada semester pertama sedikit lebih rendah dibandingkan tahun lalu, pasar surat utang korporasi tetap menunjukkan ketahanan yang baik.
“Meskipun realisasi penerbitan surat utang korporasi pada semester I-2026 sedikit lebih rendah dibandingkan tahun lalu, aktivitas pasar tetap menunjukkan ketahanan. Kebutuhan refinancing yang masih besar, ditambah biaya pendanaan di pasar obligasi yang relatif lebih kompetitif dibandingkan perbankan, menjadi faktor utama yang menopang penerbitan surat utang sepanjang tahun ini,” ujar Suhindarto.
Ia menambahkan, pelaku pasar tetap perlu mencermati perkembangan ekonomi global, pergerakan yield, dan volatilitas pasar keuangan yang berpotensi memengaruhi keputusan pendanaan emiten, meski PEFINDO masih optimistis target penerbitan surat utang korporasi tahun ini dapat tercapai.







