Metapos.id, Jakarta – Aksi promosi judi online yang membanjiri kolom komentar media sosial bukan dilakukan secara acak. Para pelaku menjalankan operasi yang terstruktur dengan memanfaatkan ribuan akun palsu dan teknologi otomatis untuk menyasar unggahan yang sedang ramai dibicarakan.
Pakar keamanan siber, Alfons Tanujaya, mengungkapkan bahwa pelaku biasanya membangun jaringan akun dalam jumlah besar melalui metode account farming. Mereka membuat akun menggunakan nomor telepon dan email massal. Di sisi lain, mereka juga memanfaatkan akun lama maupun akun yang berhasil dikuasai melalui aksi phishing.
Setelah jaringan akun siap, pelaku mengendalikan bot untuk mengirim komentar secara otomatis. Bot tersebut dapat bekerja melalui API platform maupun browser yang telah diprogram agar berjalan tanpa campur tangan manusia.
Untuk menghindari deteksi, pelaku rutin mengganti alamat IP yang digunakan. Selain itu, mereka menerapkan teknologi anti-device fingerprint agar identitas perangkat tidak mudah dikenali oleh sistem keamanan platform.
Alfons menjelaskan, bot terus memantau akun media sosial yang memiliki banyak pengikut dan tingkat interaksi tinggi. Begitu sebuah unggahan mulai viral, sistem secara otomatis mengirimkan komentar berisi promosi dan tautan judi online dalam jumlah besar.
Menurutnya, sebagian besar penyebar spam tersebut merupakan afiliator judi online. Mereka memperoleh imbalan atau komisi setiap kali berhasil mengarahkan pengguna baru untuk mengakses tautan yang disebarkan.
Sebelumnya, Menteri Komunikasi dan Digital, Meutya Hafid, menyebut lonjakan spam promosi judi online di media sosial telah mencapai 128 persen. Ia mengatakan akun influencer, media, serta instansi dengan tingkat keterlibatan pengguna yang tinggi menjadi target utama para pelaku.
Karena itu, pemerintah mengingatkan masyarakat agar tidak merespons maupun membuka tautan yang muncul dalam komentar spam. Langkah tersebut dinilai penting untuk mencegah pengguna terjerat situs judi online maupun berbagai bentuk penipuan digital.







