Metapos.id, Jakarta – Kementerian Kesehatan mengimbau masyarakat agar tidak khawatir berlebihan terkait isu hantavirus. Meski begitu, warga diminta tetap meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi penyebarannya.
Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Kemenkes, Andi Saguni, menyebut Indonesia belum mencatat kasus Hanta Pulmonary Syndrome (HPS). Di sisi lain, pemerintah terus memperkuat langkah pemantauan dan deteksi awal.
Menurut Andi, bertambahnya laporan kasus menandakan sistem pengawasan kesehatan semakin optimal. Oleh sebab itu, masyarakat diminta tetap tenang menghadapi perkembangan situasi.
Kemenkes menjelaskan kasus hantavirus di kapal pesiar MV Hondius berkaitan dengan strain Andes virus. Beberapa studi menunjukkan virus tersebut dapat menular melalui kontak dekat dalam durasi panjang.
Di kawasan Asia, termasuk Indonesia, jenis hantavirus yang ditemukan berbeda dengan kasus di kapal pesiar itu. Sampai sekarang, ahli belum menemukan bukti penularan antarmanusia pada tipe HFRS.
Hantavirus biasanya menyebar lewat kontak dengan tikus yang membawa virus. Selain itu, paparan urine, air liur, dan kotoran hewan pengerat juga dapat memicu penularan.
Potensi penyebaran meningkat di lokasi dengan populasi tikus tinggi. Contohnya meliputi gudang tertutup, wilayah terdampak banjir, hingga bangunan lama yang jarang digunakan.
Aktivitas luar ruangan turut meningkatkan risiko paparan virus. Karena itu, masyarakat disarankan menjaga kebersihan saat melakukan kegiatan seperti berkemah atau mendaki.
Kemenkes juga meminta orang yang memiliki kontak erat dengan kasus hantavirus menjalani pemantauan mandiri. Mereka juga dianjurkan mengurangi aktivitas di luar rumah selama masa observasi.
Pemerintah terus mengingatkan pentingnya menjaga kebersihan lingkungan. Selain itu, warga diminta menyimpan makanan di tempat aman dan menghindari kontak langsung dengan tikus.
Apabila mengalami gejala seperti demam, batuk, nyeri badan, atau sesak napas, masyarakat dianjurkan segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan. Langkah cepat dinilai penting untuk mempermudah penanganan medis.
Sebelumnya, WHO memastikan wabah hantavirus di kapal pesiar bukan tanda munculnya pandemi baru. Organisasi kesehatan dunia itu juga menegaskan pola penyebaran virus sangat berbeda dibanding Covid-19.







