Metapos.id, Jakarta – Lonjakan harga tiket pesawat dari Arab Saudi menuju Indonesia menjadi perhatian publik, terutama karena masih banyak jemaah umrah yang belum dapat kembali ke Tanah Air.
Dalam beberapa hari terakhir, tarif penerbangan rute Jeddah–Jakarta mengalami kenaikan tajam hingga hampir tiga kali lipat dibandingkan harga normal. Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran karena berpotensi menambah beban biaya bagi jemaah yang masih menunggu kepastian jadwal kepulangan.
Sekretaris Jenderal BPP HIPMI, Anggawira, mengungkapkan keprihatinannya terhadap situasi tersebut. Ia meminta pemerintah segera mengambil langkah nyata untuk mengatasi lonjakan harga tiket yang terjadi. Berdasarkan pemantauan HIPMI, harga tiket kelas ekonomi maskapai Garuda Indonesia yang biasanya berada di kisaran Rp7–8 juta kini pada beberapa jadwal melonjak hingga Rp18–20 juta per orang.
Kenaikan harga yang signifikan ini dinilai dapat menyulitkan para jemaah, terutama mereka yang mengalami penundaan kepulangan akibat gangguan penerbangan.
Oleh karena itu, HIPMI mendorong pemerintah untuk segera berkoordinasi dengan maskapai nasional seperti Garuda Indonesia, Lion Air, dan Batik Air agar dapat mempercepat proses pemulangan jemaah melalui penambahan jadwal penerbangan maupun penyediaan penerbangan tambahan.
Selain itu, HIPMI juga mengusulkan agar pemerintah menetapkan batas atas harga tiket pada kondisi darurat serta memperkuat pengawasan guna mencegah praktik spekulasi harga yang merugikan para jemaah.
Menurut HIPMI, kejadian ini menjadi pelajaran penting dalam pengelolaan perjalanan ibadah umrah ke depan. Diperlukan sistem perlindungan yang lebih kuat bagi jemaah, termasuk penyediaan asuransi perjalanan yang mampu menanggung risiko keadaan darurat seperti konflik geopolitik, penutupan wilayah udara, maupun gangguan operasional penerbangan internasional.
Anggawira menambahkan, sebagai negara dengan jumlah jemaah umrah terbesar di dunia mencapai lebih dari 1,5 juta orang setiap tahun Indonesia perlu memiliki sistem mitigasi krisis yang lebih baik agar negara dapat memberikan perlindungan maksimal kepada jemaah dalam situasi darurat.
Sementara itu, berdasarkan laporan dari sejumlah penyelenggara perjalanan umrah dan komunitas jemaah, diperkirakan masih terdapat sekitar 54 ribu jemaah Indonesia yang berada di Tanah Suci dan berpotensi terdampak gangguan penerbangan akibat meningkatnya konflik di kawasan tersebut.














