Metapos.id, Jakarta — Harga minyak dunia melonjak signifikan setelah terjadinya serangan terhadap sejumlah kapal dagang di kawasan Selat Hormuz, jalur vital yang menjadi penghubung distribusi sekitar 20 persen pasokan minyak dan gas global. Ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah kian meningkat, seiring dugaan bahwa insiden tersebut berkaitan erat dengan eskalasi konflik antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel.
Pusat Operasi Perdagangan Maritim Inggris atau UKMTO mengungkapkan bahwa dua kapal mengalami kerusakan akibat serangan proyektil, sementara satu kapal lainnya terdampak ledakan yang terjadi di jarak sangat dekat. Otoritas Iran pun mengeluarkan peringatan resmi kepada kapal-kapal internasional agar menghindari wilayah tersebut, yang berdampak pada lumpuhnya aktivitas pelayaran di kawasan strategis itu.
Di pasar Asia, harga minyak mentah Brent tercatat melonjak lebih dari 7 persen hingga berada di kisaran USD 78 per barel. Sementara itu, minyak mentah Amerika Serikat juga mengalami kenaikan sekitar 7,3 persen ke level USD 71,9 per barel. Para pelaku pasar memilih bersikap waspada sambil mencermati perkembangan situasi keamanan dan peluang pemulihan jalur distribusi energi global.
Sebagai langkah antisipasi, kelompok negara produsen minyak OPEC+ sebelumnya menyepakati peningkatan produksi sebesar 206.000 barel per hari untuk meredam tekanan harga. Namun, sejumlah pengamat menilai kebijakan tersebut berpotensi kurang efektif apabila eskalasi konflik terus berlanjut.
Di sektor logistik maritim, perusahaan pelayaran internasional seperti Maersk mengambil langkah strategis dengan mengalihkan jalur pelayaran dan menghentikan sementara operasional di rute-rute yang dianggap berisiko tinggi. Para analis memperingatkan, jika kondisi ini berlangsung berkepanjangan dan Selat Hormuz tetap tidak dapat dilalui, harga minyak dunia berpotensi melonjak lebih tinggi hingga melampaui USD 100 per barel.













