Monday, October 19, 2026
Metapos
No Result
View All Result
  • Home
  • Nasional
  • News
  • Ekbis
  • Hukum & Kriminal
  • Sport
  • Internasional
  • Lifestyle & Health
  • Tek & Oto
  • Mozaik
  • Galeri
  • Home
  • Nasional
  • News
  • Ekbis
  • Hukum & Kriminal
  • Sport
  • Internasional
  • Lifestyle & Health
  • Tek & Oto
  • Mozaik
  • Galeri
No Result
View All Result
Morning News
No Result
View All Result
  • Home
  • Nasional
  • News
  • Ekbis
  • Hukum & Kriminal
  • Sport
  • Internasional
  • Lifestyle & Health
  • Tek & Oto
  • Mozaik
  • Galeri

Teknologi di Balik Kokohnya Burj Khalifa Setinggi 828 Meter

Farida Ratnawati by Farida Ratnawati
19 October 2026
in Tek & Oto
Fondasi Burj Khalifa dirancang khusus untuk menghadapi tanah Dubai yang lemah, tekanan bangunan, dan risiko korosi. Ini teknologi di balik kekokohannya.

Fondasi Burj Khalifa dirancang khusus untuk menghadapi tanah Dubai yang lemah, tekanan bangunan, dan risiko korosi. Ini teknologi di balik kekokohannya.

Metapos.id, Jakarta – Burj Khalifa di Dubai, Uni Emirat Arab, dikenal sebagai gedung tertinggi di dunia dengan ketinggian sekitar 828 meter, tetapi kekokohan bangunan ini tidak hanya bergantung pada struktur yang menjulang ke langit.

Salah satu faktor penting yang menopang menara tersebut adalah sistem fondasi yang dirancang khusus untuk menghadapi kondisi tanah Dubai yang didominasi pasir dan batuan sedimen dengan kekuatan terbatas.

BACA JUGA

Rahasia Teknologi yang Membuat Kereta Bisa Berpindah Jalur

DeepSeek Hadapi Gangguan Berulang, Sumber Daya Komputasi Disorot

Dikutip dari kanal YouTube JAES Company Indonesian, Sabtu (17/10/2026), pembangunan fondasi Burj Khalifa menghadirkan tantangan teknik yang membutuhkan perhitungan cermat, mulai dari penurunan tanah hingga perlindungan terhadap korosi.

Fondasi bangunan ini menggunakan pelat beton bertulang tebal yang dikenal sebagai raft foundation, yang bekerja bersama sistem tiang pancang untuk menyalurkan beban bangunan ke dalam tanah.

Tiang pancang membantu menopang beban melalui kombinasi tahanan di ujung tiang dan gesekan antara permukaan tiang dengan tanah di sekitarnya.

Sistem tersebut menjadi penting karena para insinyur tidak dapat mengandalkan lapisan tanah keras yang dangkal sebagai penopang utama bangunan.

Dalam proses pembangunannya, pengeboran tiang pancang juga menghadapi tantangan berupa air tanah yang dapat membuat dinding lubang bor tidak stabil.

Untuk mengatasinya, cairan pengeboran digunakan guna membantu menjaga kestabilan dinding lubang sebelum tulangan baja dan beton dipasang.

Beton khusus yang dapat mengalir dengan baik tanpa memerlukan pemadatan menggunakan penggetar konvensional juga digunakan dalam pengecoran tiang pancang yang dalam.

Selain menopang beban vertikal, desain fondasi harus memperhitungkan gaya lateral akibat angin yang bekerja pada bangunan sangat tinggi.

Penempatan dan jumlah tiang pancang dirancang melalui analisis teknik serta pengujian beban untuk memastikan fondasi dapat bekerja sesuai perhitungan.

Tantangan lainnya adalah korosi pada tulangan baja akibat kondisi lingkungan dan keberadaan air tanah yang mengandung garam.

Untuk mengurangi risiko tersebut, sistem proteksi katodik menggunakan arus listrik searah diterapkan agar korosi pada tulangan baja dapat dikendalikan.

Dalam sistem ini, tulangan baja berperan sebagai katoda, sedangkan material anoda membantu melindungi baja dari proses korosi elektrokimia.

Arus listrik perlu dijaga dalam rentang yang sesuai karena perlindungan yang tidak memadai dapat meningkatkan risiko korosi, sementara kondisi yang tidak tepat juga dapat menimbulkan efek merugikan pada material.

Oleh sebab itu, sistem perlindungan tersebut memerlukan pemantauan dan pengendalian agar fondasi tetap terlindungi dalam jangka panjang.

Fondasi Burj Khalifa menunjukkan bahwa pembangunan gedung pencakar langit bukan hanya persoalan membuat struktur yang tinggi, tetapi juga memahami karakteristik tanah, menghitung distribusi beban, mengendalikan pergerakan fondasi, serta melindungi material dari kerusakan.

Kombinasi rekayasa geoteknik, teknologi beton, pengujian struktur, dan pengendalian korosi menjadi bagian penting yang memungkinkan bangunan tersebut berdiri di tengah kondisi lingkungan Dubai yang menantang.

Tags: Burj Khalifafondasi Burj KhalifaMetaposteknik sipilteknologi konstruksi
Previous Post

Dua Kali Tak Penuhi Panggilan KPK, Nusron Wahid ke Malaysia

Next Post

Indonesia Bersaing dengan Italia dan Jepang dalam Daftar Kuliner Terbaik Dunia

Related Posts

Saklar rel memungkinkan kereta berpindah jalur dengan aman. Kenali cara kerja lidah wesel, rel persilangan, cek rel, dan motor penggeraknya.
Tek & Oto

Rahasia Teknologi yang Membuat Kereta Bisa Berpindah Jalur

19 October 2026
DeepSeek Hadapi Gangguan Berulang, Sumber Daya Komputasi Disorot
Tek & Oto

DeepSeek Hadapi Gangguan Berulang, Sumber Daya Komputasi Disorot

18 October 2026
AFC Awards 2026: Daftar Nominasi Pemain hingga Pelatih
Tek & Oto

Meta Luncurkan AI 816 Miliar Parameter untuk Mac

17 October 2026
iPhone 18 Pro Resmi Dijual, Burgundy Jadi Warna Favorit
Tek & Oto

iPhone 18 Pro Resmi Dijual, Burgundy Jadi Warna Favorit

16 October 2026
Kreator TikTok membagikan lima tips menggunakan AI secara bijak, mulai dari memilih tools hingga memeriksa konten sebelum membagikannya.
Tek & Oto

Lima Tips Bijak Menggunakan AI ala Kreator TikTok

16 October 2026
WhatsApp Rilis Fitur Guest Call, Bisa Telepon Tanpa Akun
Tek & Oto

WhatsApp Rilis Fitur Guest Call, Bisa Telepon Tanpa Akun

15 October 2026
Next Post
Indonesia Bersaing dengan Italia dan Jepang dalam Daftar Kuliner Terbaik Dunia

Indonesia Bersaing dengan Italia dan Jepang dalam Daftar Kuliner Terbaik Dunia

  • Kontak Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

© 2026 Metapos - Media Informasi Terkini

No Result
View All Result
  • Home
  • Nasional
  • News
  • Ekbis
  • Hukum & Kriminal
  • Sport
  • Internasional
  • Lifestyle & Health
  • Tek & Oto
  • Mozaik
  • Galeri

© 2026 Metapos - Media Informasi Terkini