Metapos.id, Jakarta – Jauh sebelum universitas modern berkembang di Eropa, Nusantara sudah memiliki pusat pendidikan yang menarik perhatian dunia. Peran tersebut dijalankan oleh Kerajaan Sriwijaya yang dikenal sebagai tujuan belajar para pelajar dan biksu dari berbagai wilayah Asia.
Sejumlah catatan sejarah menyebut Sriwijaya telah tumbuh sebagai pusat pembelajaran agama Buddha sejak abad ke-7 Masehi. Dengan usia tersebut, keberadaannya jauh mendahului Universitas Oxford yang mulai berkembang pada akhir abad ke-11.
Selain menguasai jalur perdagangan laut, Sriwijaya juga memperkuat posisinya sebagai pusat ilmu pengetahuan. Kerajaan ini berhasil membangun lingkungan pendidikan yang dikenal luas di kawasan Asia.
Bukti mengenai aktivitas pendidikan itu muncul dalam catatan perjalanan biksu asal Tiongkok, I-Tsing. Ia datang ke Sriwijaya pada tahun 671 Masehi untuk mendalami bahasa Sanskerta sebelum melanjutkan perjalanan ke India.
Selama menetap di sana, I-Tsing menyaksikan banyak pelajar dan biksu dari berbagai negara menimba ilmu. Selain itu, ia menggambarkan Sriwijaya sebagai wilayah yang memiliki kehidupan akademik yang aktif.
Kualitas pendidikan di Sriwijaya tidak lepas dari peran para pengajar. Banyak biksu yang mengajar pernah menempuh pendidikan di Nalanda, lembaga pembelajaran Buddha terkemuka di India pada masa itu.
Karena memiliki mutu pendidikan yang tinggi, Sriwijaya kerap menjadi tempat persiapan bagi para pelajar. Setelah memperoleh bekal ilmu, mereka melanjutkan pendidikan ke Nalanda.
Popularitas Sriwijaya juga menarik perhatian tokoh-tokoh Buddha ternama. Salah satunya adalah Atisha Dipamkara yang datang ke Sumatra pada awal abad ke-11 untuk memperdalam ajaran Buddha.
Atisha kemudian belajar kepada Dharmakirti selama bertahun-tahun. Setelah itu, ia kembali ke India dan menyebarkan pengetahuan yang diperolehnya selama berada di Sriwijaya.
Namun, masa kejayaan tersebut perlahan memudar. Memasuki abad ke-13, Sriwijaya menghadapi berbagai persoalan politik dan tekanan dari kekuatan lain di kawasan.
Akibat kondisi tersebut, pengaruh kerajaan semakin berkurang. Meski begitu, warisan Sriwijaya sebagai pusat pendidikan penting di Asia tetap tercatat dalam berbagai sumber sejarah.
Hingga kini, kisah Sriwijaya menunjukkan bahwa Nusantara pernah memainkan peran besar dalam perkembangan pendidikan dan keilmuan. Selain itu, sejarah tersebut menjadi bukti kontribusi Indonesia dalam jaringan intelektual Asia pada masa lampau.







