Metapos.id, Jakarta – Sistem rantai dingin disarankan ahli untuk mendukung kualitas program MBG di Indonesia. Oleh karena itu, Badan Gizi Nasional terus melakukan evaluasi untuk menjaga standar makanan di berbagai daerah.
Langkah evaluasi dilakukan melalui inspeksi mendadak di berbagai satuan layanan gizi. Selain itu, penghentian sementara operasional dilakukan untuk memastikan standar keamanan pangan terpenuhi dengan baik.
Ahli teknologi pangan Yuyun Anwar menilai banyak mitra belum memahami standar teknis. Oleh karena itu, risiko kesalahan dalam pengolahan makanan skala besar masih cukup tinggi.
Menurut Yuyun Anwar, penerapan sistem rantai dingin dapat menjadi solusi efektif. Selain itu, metode ini menjaga suhu makanan tetap stabil dari produksi hingga distribusi.
Sistem ini mampu menjaga kesegaran makanan serta mencegah kontaminasi selama proses distribusi. Kemudian, risiko pemborosan juga dapat ditekan karena kualitas makanan tetap terjaga lebih lama.
Penelitian menunjukkan kesalahan suhu menjadi penyebab utama insiden keamanan pangan. Oleh karena itu, pengendalian suhu antara lima hingga enam puluh derajat menjadi sangat penting dalam distribusi makanan.
Sementara itu, Rudi Setiawan dari Badan Gizi Nasional menegaskan pentingnya pengawasan. Selain itu, setiap layanan wajib memenuhi standar higiene dan sanitasi sebelum kembali beroperasi.
Pemerintah akan terus melakukan evaluasi dan verifikasi terhadap seluruh layanan gizi. Oleh karena itu, program MBG diharapkan berjalan optimal dengan mutu dan keamanan pangan yang terjamin.














