Metapos.id, Jakarta – Dunia menghadapi potensi tekanan pada sektor digital global seiring meningkatnya ketegangan antara Donald Trump dan pemerintah Iran. Di tengah situasi tersebut, muncul peringatan dari Teheran terkait kemungkinan gangguan terhadap infrastruktur komunikasi internasional.
Pernyataan itu disampaikan oleh Seyyed Mohammad Mehdi Tabatabaei, yang menegaskan bahwa Iran dapat mengambil langkah balasan apabila infrastruktur energi mereka menjadi target serangan. Salah satu opsi yang disebut adalah potensi gangguan terhadap kabel serat optik bawah laut di jalur strategis seperti Teluk Persia, Laut Merah, dan Laut Mediterania.
Wilayah tersebut merupakan salah satu koridor penting bagi lalu lintas data global karena menghubungkan jaringan komunikasi antara Asia, Eropa, dan Afrika. Meski demikian, para analis menilai bahwa sistem internet global memiliki banyak jalur cadangan, sehingga gangguan di satu kawasan tidak secara otomatis menyebabkan pemadaman total di seluruh dunia.
Dampak yang mungkin terjadi lebih bersifat regional, seperti perlambatan akses internet atau gangguan layanan digital tertentu, termasuk sistem keuangan dan operasional perusahaan teknologi seperti Google, Amazon, dan Microsoft.
Pakar keamanan siber juga menyoroti bahwa perbaikan kabel bawah laut di wilayah konflik memerlukan waktu dan kondisi yang tidak mudah. Namun, operator jaringan global umumnya telah menyiapkan skema pengalihan trafik (rerouting) melalui jalur alternatif, baik kabel darat maupun satelit, untuk menjaga stabilitas layanan.
Hingga kini, belum ada tanda-tanda aksi nyata terkait ancaman tersebut. Laporan dari Reuters dan Associated Press menyebutkan bahwa pelaku industri teknologi tengah meningkatkan kewaspadaan serta menyiapkan langkah mitigasi guna mengantisipasi potensi gangguan.













