Metapos.id, Jakarta – Operasi militer Amerika Serikat (AS) di Venezuela yang bertujuan menangkap Presiden Nicolás Maduro pada 3 Januari 2026 telah menimbulkan korban besar dan dampak geopolitik yang luas. Aksi ini memicu serangan udara dan gerakan pasukan khusus di ibukota Caracas, menewaskan puluhan warga militer serta menimbulkan reaksi internasional yang beragam
Pihak berwenang Venezuela mengonfirmasi bahwa puluhan anggota keamanan mereka tewas dalam serangan yang menyasar beberapa fasilitas militer penting. Selain itu, sejumlah personel Kuba yang bertugas di Venezuela juga menjadi korban, sehingga total korban tewas dilaporkan mencapai sekitar 80 orang, menurut laporan pejabat senior Venezuela dan media asing.
Operasi yang diluncurkan oleh pasukan AS di kompleks militer Caracas berlangsung cepat dan intens. Sementara pemerintah AS menggambarkan langkah itu sebagai tindakan penegakan hukum untuk menahan Maduro atas tuduhan pidana federal termasuk narkoterorisme, banyak negara mengecamnya sebagai pelanggaran serius terhadap kedaulatan Venezuela dan hukum internasional.
Maduro dan istrinya, Cilia Flores, berhasil ditangkap dalam operasi tersebut dan dipindahkan ke Amerika Serikat untuk menjalani proses hukum di New York, di mana mereka menghadapi dakwaan federal. Kedua tersangka menyatakan tidak bersalah atas tuduhan yang diajukan.
Selain itu, tanggapan global terhadap tindakan militer AS sangat beragam. Beberapa negara mengutuk langkah Washington sebagai agresi yang melanggar hukum internasional, sementara sejumlah pihak lain menyuarakan dukungan atau kekhawatiran tentang masa depan Venezuela pasca-Maduro.
Akibat operasi ini, pemerintah sementara Venezuela tengah berupaya mengisi kekosongan kekuasaan dan menenangkan situasi domestik, sementara komunitas internasional menyerukan deeskalasi serta dialog lintas pihak untuk menghindari eskalasi konflik lebih lanjut.














