Metapos.id, Jakarta — Sabrang Mowo Damar Panuluh atau yang dikenal sebagai Noe Letto membantah tudingan bahwa dirinya kehilangan independensi setelah dilantik sebagai Tenaga Ahli Madya Dewan Pertahanan Nasional (DPN) RI. Ia menegaskan, sikap kritis terhadap pemerintah telah ia jalani sejak lama, jauh sebelum dirinya masuk ke dalam struktur lembaga negara.
Penegasan tersebut disampaikan Noe melalui kanal YouTube Sabrang MDP Official, sebagai respons atas komentar warganet yang meragukan keberaniannya dalam mengkritik pemerintah pasca-pelantikan. Menurutnya, memberikan masukan maupun kritik kepada negara bukanlah hal baru dan tidak terkait dengan jabatan yang kini ia emban.
Putra budayawan Emha Ainun Najib atau Cak Nun itu mengungkapkan, sejak lama ia aktif melakukan kajian dan menyampaikan pandangan kritis, termasuk pada masa pemerintahan Presiden ke-7 RI Joko Widodo. Salah satu isu yang pernah ia soroti adalah potensi ancaman media sosial terhadap persatuan bangsa.
Analisis tersebut bahkan sempat didiskusikan bersama sejumlah akademisi, meski pada akhirnya tidak berlanjut menjadi kebijakan.
Seiring berjalannya waktu dan munculnya berbagai kepentingan, Noe memilih mengambil jalur mandiri dengan membangun platformnya sendiri. Langkah itu ia anggap sebagai bentuk tanggung jawab intelektual atas gagasan dan analisis yang diyakininya penting bagi masa depan bangsa.
Noe juga mengungkapkan bahwa dalam setahun terakhir periode di mana publik menilai dirinya cukup lantang mengkritik ia secara bersamaan tetap memberikan masukan kepada DPN serta beberapa kementerian lainnya.
Masukan tersebut, kata dia, diberikan murni sebagai kontribusi pemikiran, bukan demi memperoleh jabatan.
Ia menilai, apabila orientasinya semata-mata mengejar posisi, maka sikap yang diambil seharusnya adalah menjaga hubungan dan menahan kritik. Namun, yang terjadi justru sebaliknya, ia tetap konsisten menyampaikan pandangan kritis sesuai dengan keyakinannya.
Lebih lanjut, Noe menegaskan bahwa kebebasan berpikir dan berbicara merupakan tanggung jawab pribadi yang tidak dapat digadaikan kepada siapa pun, baik kepada pemerintah maupun kepada tekanan publik. Ia juga menyebut anggapan bahwa tidak mengkritik berarti mendukung pemerintah sebagai pola pikir yang tidak sehat.
Menurut Noe, keputusannya bergabung dengan DPN bukanlah pilihan yang mudah. Di luar sistem, ia menjalani kehidupan yang relatif aman dan nyaman. Namun demikian, ia memilih masuk ke dalam sistem untuk menguji apakah objektivitas, kritik, dan masukan konstruktif masih memiliki ruang serta nilai dalam upaya menjaga kepentingan jangka panjang negara.













