Wednesday, May 13, 2026
Metapos
No Result
View All Result
  • Home
  • Nasional
  • Ekbis
  • Hukum & Kriminal
  • Sport
  • Internasional
  • Lifestyle & Health
  • Tek & Oto
  • Galeri
  • Home
  • Nasional
  • Ekbis
  • Hukum & Kriminal
  • Sport
  • Internasional
  • Lifestyle & Health
  • Tek & Oto
  • Galeri
No Result
View All Result
Morning News
No Result
View All Result
  • Home
  • Nasional
  • Ekbis
  • Hukum & Kriminal
  • Sport
  • Internasional
  • Lifestyle & Health
  • Tek & Oto
  • Galeri

Mie Instan Bisa jadi Barang Mewah Gara-Gara Ini

Rahmat Herlambang by Rahmat Herlambang
18 April 2022
in Ekbis
Mie Instan Bisa jadi Barang Mewah Gara-Gara Ini

Metapos.id, Jakarta– Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan bahwa situasi perang di Eropa Timur antara Rusia dan Ukraina bisa membawa dampak yang cukup signifikan terhadap ketersediaan bahan pangan dunia, utamanya komoditas gandum.

Asumsi ini bukannya tanpa alasan mengingat baik Rusia maupun Ukraina merupakan dua negara penting yang menjadi pemasok gandum global.

BACA JUGA

IRF 2026 Soroti Reformasi Pasar Modal di Tengah Ketidakpastian Global

Petrokimia Gresik Pastikan Stok Pupuk Aman di Tengah Dinamika Global

“Sebelum perang, Rusia dan Ukraina memiliki peran penting dalam perdagangan internasional untuk sejumlah komoditas,” ujar Kepala BPS kepada wartawan melalui saluran virtual pada Senin, 18 April.

Dalam catatannya, Rusia adalah eksportir terbesar atau nomor satu untuk komoditas gandum. Sementara Ukraina menempati posisi kelima negara pengekspor gandum dunia.

“Kedua negara ini memiliki peran strategis dalam perdagangan global. Sehingga, dengan terjadinya perang tentu saja mengganggu rantai pasok yang ada,” tuturnya.

Sebagai informasi, komoditas gandum dan serealia merupakan bahan baku pembuatan mie instan yang banyak dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia. RI menggantungkan sekitar 30 persen kebutuhan gandum nasional dengan mengimpor dari Ukraina.

“Nilai impor gandum dan serealia dari Ukraina merosot drastis dari sebelumnya 14,1 juta dolar AS di Februari 2022 menjadi tinggal 1,5 juta dolar AS pada Maret 2022. Secara total, impor gandum dan serealia dari Ukraina pada Januari hingga Maret 2022 adalah sebesar 17,2 juta dolar AS,” jelas Margo.

BPS sendiri sempat mengungkapkan bahwa telah terjadi kenaikan harga gandum di pasar internasional dari sebelumnya 200-an dolar per metrik ton menjadi 400-an dolar per metrik ton.

Tags: Metapos.idMie instan
Previous Post

Menjaga Asupan Nutrisi Berkualitas Selama Ramadhan

Next Post

Indonesia Cetak Ekspor Terbesar Sepanjang Sejarah

Related Posts

IRF 2026 Soroti Reformasi Pasar Modal di Tengah Ketidakpastian Global
Ekbis

IRF 2026 Soroti Reformasi Pasar Modal di Tengah Ketidakpastian Global

13 May 2026
Petrokimia Gresik Pastikan Stok Pupuk Aman di Tengah Dinamika Global
Ekbis

Petrokimia Gresik Pastikan Stok Pupuk Aman di Tengah Dinamika Global

13 May 2026
Superbank dan KakaoBank Luncurkan Kartu Untung untuk Tingkatkan Engagement Nasabah
Ekbis

Superbank dan KakaoBank Luncurkan Kartu Untung untuk Tingkatkan Engagement Nasabah

12 May 2026
Huawei Dikabarkan Kembangkan Smartphone dengan Baterai Jumbo di Atas 10.000 mAh
Ekbis

Konflik AS-Iran hingga MSCI Dinilai Tekan Nilai Tukar Rupiah

12 May 2026
Sidang Chromebook Nadiem Dinilai Tunjukkan Perbedaan Cara Pandang soal Inovasi
Ekbis

Prudential Syariah Kokoh Pimpin Industri Asuransi Jiwa Syariah Nasional

12 May 2026
Program #LokalMendunia Bantu Brand Indonesia Go Global via TikTok Shop
Ekbis

Program #LokalMendunia Bantu Brand Indonesia Go Global via TikTok Shop

11 May 2026
Next Post
Indonesia Cetak Ekspor Terbesar Sepanjang Sejarah

Indonesia Cetak Ekspor Terbesar Sepanjang Sejarah

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Kontak Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

© 2026 Metapos - Media Informasi Terkini

No Result
View All Result
  • Home
  • Nasional
  • Ekbis
  • Hukum & Kriminal
  • Sport
  • Internasional
  • Lifestyle & Health
  • Tek & Oto
  • Galeri

© 2026 Metapos - Media Informasi Terkini