Metapos.id, Jakarta – PT Bursa Efek Indonesia (BEI) bersama Indonesia Business Coalition for Women Empowerment (IBCWE) meluncurkan temuan awal Census on Women in Executive Leadership Team (ELT) in IDX200 Companies periode 2022–2025. Hasil sensus tersebut mengungkap bahwa keterwakilan perempuan di tingkat kepemimpinan perusahaan terbesar di pasar modal Indonesia masih menunjukkan stagnasi.
Penelitian ini menganalisis laporan tahunan dan laporan keberlanjutan dari 200 perusahaan dengan kapitalisasi pasar terbesar yang tercatat di BEI. Temuan awal dipaparkan dalam acara bertema “From Disclosure to Impact: Advancing Women’s Leadership in IDX200 Companies” yang dihadiri lebih dari 200 pemimpin perusahaan, regulator, dan pembuat kebijakan.
Berdasarkan data sensus, terdapat 1.094 anggota Executive Leadership Team pada perusahaan IDX200 sepanjang 2025. Dari jumlah tersebut, hanya 164 orang atau sekitar 15 persen yang merupakan perempuan.
Angka tersebut tidak jauh berbeda dibandingkan kondisi pada 2022 ketika perempuan mengisi 159 dari total 1.059 posisi ELT. Data ini menunjukkan belum adanya peningkatan signifikan dalam representasi perempuan pada level kepemimpinan eksekutif.
Pada posisi tertinggi perusahaan, jumlah CEO perempuan juga masih relatif terbatas. Tercatat hanya 11 perusahaan IDX200 yang dipimpin CEO perempuan pada 2025, sama seperti tahun 2022 setelah sempat turun menjadi 10 perusahaan pada 2023 dan 2024.
Komisaris Utama BEI Nurhaida menegaskan sensus ini merupakan bagian dari komitmen BEI dalam memperkuat transparansi dan praktik keberlanjutan. Menurutnya, data yang akurat dapat menjadi landasan penting dalam mendorong peningkatan peran perempuan di posisi strategis perusahaan.
Sementara itu, IBCWE menilai pelaporan gender tidak boleh sekadar menjadi kewajiban administratif. Transparansi data dinilai dapat membantu perusahaan memetakan jalur karier perempuan, mengidentifikasi hambatan struktural, serta menetapkan target yang terukur dalam pengembangan kepemimpinan.
Melalui sensus ini, BEI dan IBCWE berharap perusahaan dapat semakin mengintegrasikan indikator gender ke dalam pelaporan ESG dan keberlanjutan. Langkah tersebut diharapkan mampu mendorong terciptanya ekosistem bisnis yang lebih inklusif sekaligus meningkatkan kesetaraan peluang bagi perempuan di tingkat kepemimpinan korporasi.







