Sunday, August 2, 2026
Metapos
No Result
View All Result
  • Home
  • Nasional
  • News
  • Ekbis
  • Hukum & Kriminal
  • Sport
  • Internasional
  • Lifestyle & Health
  • Tek & Oto
  • Mozaik
  • Galeri
  • Home
  • Nasional
  • News
  • Ekbis
  • Hukum & Kriminal
  • Sport
  • Internasional
  • Lifestyle & Health
  • Tek & Oto
  • Mozaik
  • Galeri
No Result
View All Result
Morning News
No Result
View All Result
  • Home
  • Nasional
  • News
  • Ekbis
  • Hukum & Kriminal
  • Sport
  • Internasional
  • Lifestyle & Health
  • Tek & Oto
  • Mozaik
  • Galeri

Menteri ESDM Arifin Tasrif Heran Ekonomi Membaik tapi Konsumsi Elpiji 12 Kg Turun

metaposmedia by metaposmedia
18 October 2023
in Ekbis
Peningkatan Nilai Tambah Mineral Dukung Transisi Energi

Jakarta,Metapos.id – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif mengungkapkan, konsumsi elpiji 12 kilogram (Kg) semakin menurun jika dibandingkan dengan tahun 2019.

Padahal, kata dia konsumsi BBM non subsidi ini seharusnya meningkat di tengah ekonomi yang membaik pascapandemi COVID-19.

BACA JUGA

Daftar Harga BBM Pertamina Terbaru Berlaku Mulai 1 Agustus 2026

Momentum Pemulihan Menguat, EBITDA BUMA International Group Tumbuh pada 1H2026

“Tahun 2019 dulu yang membeli 12 kilo yang nonsubsidi jumlah volumenya itu 900.000 ton, sekarang turun jadi 600.000 ton,” ujar Arifin yang dikutip Selasa, 17 Oktober.

Arifin menyebut hal ini disebabkan ada sekitar 1,5 juta ton elpiji yang keluar dari jalur distribusi.

“Mestinya kan naik, ekonomi sudah membaik ini turun. Kemudian ada 1,5 juta ton barang yang keluar dari jalur distribusi sampai ke pengecer,” lanjut Arifin.

Untuk itu, ia memastikan, kementeriannya akan membereskan masalah tersebut sehingga penyaluran elpiji nonsubsidi berjalan sesuai dengan peruntukannya.

Pada kesempatan yang sama Arifin juga menyebut pemerintah akan mengevaluasi rantai pasok gas elpiji 3 Kg yang yang dinilai terlalu panjang.

Jika dibandingkan dengan penyaluran pupuk. Padahal penerima elpiji subsidi berjumlah 60 juta rumah tangga sementara subsidi pupuk hanya sebesar 16 juta kompok tani.

“Jadi pupuk ada 16 juta konstituen sedangkan elpiji 60 juta. Di pupuk ada 27.000 penyalur dan elpiji ad 245 penyalur,” pungkas Arifin.

Tags: Arifin tasrifMenteri esdmMetapos.id
Previous Post

Indonesia Perkuat Industri Pelayaran di Sektor Maritim

Next Post

Satgas BLBI Sita Aset Tanah Seluas 85,84 Hektare di Cikupa Banten

Related Posts

Mulai September, Naik TransBandara Blok M–Soetta Bayar Rp15.000
Ekbis

Daftar Harga BBM Pertamina Terbaru Berlaku Mulai 1 Agustus 2026

1 August 2026
Momentum Pemulihan Menguat, EBITDA BUMA International Group Tumbuh pada 1H2026
Ekbis

Momentum Pemulihan Menguat, EBITDA BUMA International Group Tumbuh pada 1H2026

1 August 2026
BEI Luncurkan Green Equity Designation bagi Perusahaan Tercatat
Ekbis

BEI Luncurkan Green Equity Designation bagi Perusahaan Tercatat

31 July 2026
ASABRI Hadirkan Layanan Bernilai Tambah, Peserta Kini Nikmati Kemudahan Miliki Motor Yamaha
Ekbis

ASABRI Hadirkan Layanan Bernilai Tambah, Peserta Kini Nikmati Kemudahan Miliki Motor Yamaha

31 July 2026
Bukalapak Catat Adjusted EBITDA Positif Sepanjang Semester I 2026
Ekbis

Bukalapak Catat Adjusted EBITDA Positif Sepanjang Semester I 2026

30 July 2026
Kementerian ESDM menyebut proyek LNG Abadi Masela menjadi bukti pemerataan pembangunan dari Indonesia Timur sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional.
Ekbis

LNG Abadi Masela Perkuat Ketahanan Energi dan Dorong Ekonomi Indonesia Timur

29 July 2026
Next Post
Satgas BLBI Sita Puluhan Hektar Aset Tanah di Sukabumi dan Jatim

Satgas BLBI Sita Aset Tanah Seluas 85,84 Hektare di Cikupa Banten

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Kontak Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

© 2026 Metapos - Media Informasi Terkini

No Result
View All Result
  • Home
  • Nasional
  • News
  • Ekbis
  • Hukum & Kriminal
  • Sport
  • Internasional
  • Lifestyle & Health
  • Tek & Oto
  • Mozaik
  • Galeri

© 2026 Metapos - Media Informasi Terkini