Metapos.id, Jakarta – Parasit Cyclospora cayetanensis menjadi sorotan setelah memicu peningkatan kasus cyclosporiasis di Amerika Serikat. Infeksi usus ini umumnya menyebar melalui makanan atau air yang terkontaminasi dan dapat menyebabkan diare berkepanjangan.
Cyclosporiasis merupakan penyakit yang menyerang saluran pencernaan akibat infeksi parasit mikroskopis tersebut. Gejala biasanya muncul sekitar satu minggu setelah seseorang mengonsumsi makanan atau minuman yang telah terkontaminasi.
Gejala yang paling umum meliputi diare berair, kram perut, mual, perut kembung, kelelahan, serta hilangnya nafsu makan. Pada sebagian kasus, penderita juga mengalami penurunan berat badan akibat kehilangan cairan dan gangguan penyerapan nutrisi.
Menurut para ahli, sumber penularan paling sering berasal dari produk segar seperti selada, daun herbal, buah beri, atau sayuran yang terkontaminasi. Berbeda dengan beberapa infeksi usus lainnya, Cyclospora tidak menular langsung dari orang ke orang.
Kelompok yang lebih rentan mengalami komplikasi adalah anak-anak, lansia, dan orang dengan sistem kekebalan tubuh lemah. Meski sebagian besar pasien dapat sembuh, gejalanya bisa berlangsung selama beberapa minggu apabila tidak ditangani dengan tepat.
Para pakar menyarankan masyarakat mencuci buah dan sayuran di bawah air mengalir sebelum dikonsumsi. Memasak bahan makanan hingga matang serta menggunakan air bersih juga dapat membantu menurunkan risiko infeksi.
Bila mengalami diare berkepanjangan setelah mengonsumsi makanan mentah atau bepergian ke daerah yang sedang mengalami wabah, sebaiknya segera berkonsultasi ke dokter. Diagnosis yang tepat diperlukan karena infeksi Cyclospora tidak selalu terdeteksi melalui pemeriksaan rutin.
Menjaga kebersihan makanan dan menerapkan praktik keamanan pangan tetap menjadi langkah terbaik untuk mencegah cyclosporiasis. Kesadaran masyarakat terhadap cara penularan dan gejala penyakit ini juga penting untuk mengurangi risiko penyebaran infeksi.







