Metapos.id, Jakarta – Kesepakatan penghentian sementara konflik antara Iran dan Amerika Serikat selama dua pekan membuka peluang bagi perundingan damai.
Namun demikian, keputusan ini memicu penolakan dari kelompok garis keras di dalam negeri.
Perundingan dijadwalkan berlangsung di Islamabad pada Sabtu, 11 April 2026. Sementara itu, pemerintah Iran mulai menunjukkan sikap lebih terbuka setelah sebelumnya menolak opsi penghentian konflik.
Di sisi lain, kelompok garis keras memperlihatkan kemarahan mereka. Mereka memasang spanduk besar di Teheran yang menegaskan bahwa Selat Hormuz tetap ditutup.
Namun saat ini, Iran menyetujui pembukaan jalur pelayaran selama masa gencatan senjata. Keputusan tersebut diambil oleh Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran.
Selain itu, tekanan dari komunitas internasional turut berperan. China dilaporkan mendorong Iran agar menerima mediasi dari Pakistan.
Meskipun begitu, kelompok garis keras tetap bersikeras menolak kebijakan tersebut. Mereka menilai penghentian konflik hanya memberi kesempatan bagi pihak lawan untuk memperkuat diri.
Tak hanya itu, milisi Basij menggelar aksi unjuk rasa di depan Kementerian Luar Negeri. Mereka juga membakar bendera AS dan Israel sebagai bentuk protes.
Di tengah konflik, situasi dalam negeri Iran semakin memburuk. Lebih dari 3.000 orang dilaporkan tewas selama 40 hari pertempuran.
Oleh karena itu, sebagian elite mulai mencari solusi. Mereka berupaya mengakhiri konflik tanpa kehilangan posisi tawar.
Sementara itu, pembicaraan langsung dengan AS menjadi langkah baru. Sebelumnya, kebijakan ini dilarang oleh pemimpin Iran sebelumnya.
Kini, arah kebijakan mulai berubah di bawah kepemimpinan baru. Pemerintah membuka peluang dialog langsung dengan Washington.
Meski demikian, perdamaian jangka panjang masih belum pasti. Jika perundingan menemui jalan buntu, konflik berpotensi kembali pecah.
Di sisi lain, sebagian warga menginginkan perang berlanjut untuk mengganti rezim. Namun, banyak warga lainnya berharap situasi segera damai.
Pada akhirnya, penghentian konflik ini memberi jeda yang sangat dibutuhkan. Setidaknya, masyarakat dapat bernapas lebih lega setelah tekanan panjang akibat perang.













