• Kontak Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
Thursday, February 5, 2026
Metapos
No Result
View All Result
  • Home
  • Nasional
  • Ekbis
  • Hukum & Kriminal
  • Sport
  • Internasional
  • Lifestyle & Health
  • Tek & Oto
  • Galeri
  • Home
  • Nasional
  • Ekbis
  • Hukum & Kriminal
  • Sport
  • Internasional
  • Lifestyle & Health
  • Tek & Oto
  • Galeri
No Result
View All Result
Metapos
No Result
View All Result
Home Internasional

Korea Selatan Siap Bangun Kapal Selam Nuklir untuk Tambah Kekuatan AS di Pasifik

Desti Dwi Natasya by Desti Dwi Natasya
21 December 2025
in Internasional
AI Masuk Proses Rekrutmen, Bukannya Efisien Justru Bikin Perusahaan dan Pelamar Sama-Sama Kewalahan
Share on FacebookShare on Twitter

Metapos.id, Jakarta – Ketimpangan kekuatan bawah laut di kawasan Indo-Pasifik menjadi tantangan serius bagi Amerika Serikat. Di tengah keterbatasan jumlah kapal selamnya, Korea Selatan muncul dengan rencana strategis yang berpotensi mengubah peta kekuatan regional: mengembangkan kapal selam bertenaga nuklir sekaligus membantu meringankan beban Angkatan Laut AS di kawasan tersebut.

 

Dengan persetujuan Presiden Amerika Serikat Donald Trump, Korea Selatan berpeluang masuk ke dalam kelompok eksklusif negara pemilik kapal selam bertenaga nuklir. Jika terealisasi, Seoul akan menjadi negara ketujuh di dunia setelah Amerika Serikat, Rusia, China, Prancis, Inggris, dan India yang mengoperasikan teknologi tersebut.

 

Rencana ini dinilai memberikan keuntungan bagi kedua pihak. Korea Selatan dapat memperkuat kemampuan militernya dalam menghadapi aktivitas bawah laut Korea Utara dan China, sementara AS berpotensi mengalihkan kapal selam serang bertenaga nuklirnya ke kawasan strategis lain seperti Laut China Selatan dan perairan sekitar Taiwan.

 

“Bagi Korea Selatan, ini akan menjadi perubahan besar dalam menghadapi ancaman kapal selam Korea Utara,” ujar Yu Jihoon, peneliti di Korea Institute for Defense Analyses sekaligus mantan perwira kapal selam Angkatan Laut Korea Selatan.

 

Dibandingkan kapal selam diesel-listrik, kapal selam bertenaga nuklir memiliki keunggulan signifikan, mulai dari daya jelajah yang hampir tak terbatas, kecepatan lebih tinggi, hingga tingkat kebisingan yang lebih rendah. Keunggulan ini menjadikannya aset penting dalam operasi pengawasan dan pertahanan jangka panjang.

 

Namun, ambisi tersebut menghadapi kendala lama. Selama puluhan tahun, Korea Selatan terikat perjanjian nuklir dengan AS yang melarang pemrosesan ulang bahan bakar nuklir bekas, meski secara teknologi negara itu dinilai mampu melakukannya.

 

Isu ini kembali mencuat ketika Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung secara terbuka meminta Presiden Trump mencabut larangan tersebut dalam pertemuan pada Oktober lalu. Sehari setelahnya, Trump menyatakan persetujuannya melalui platform Truth Social, dengan menyebut bahwa Korea Selatan diperbolehkan membangun kapal selam bertenaga nuklir sebagai pengganti armada diesel yang dinilai kurang efektif.

 

Lee menegaskan, langkah tersebut bertujuan meningkatkan kemampuan pemantauan kapal selam China dan Korea Utara, sekaligus “mengurangi beban signifikan pasukan AS” di sekitar Semenanjung Korea.

 

Dari perspektif Washington, kebutuhan akan dukungan tambahan memang nyata. Berdasarkan data Angkatan Laut AS per Juli 2025, Amerika Serikat hanya mengoperasikan 49 kapal selam serang untuk mencakup seluruh wilayah laut global. Jumlah itu jauh tertinggal dibandingkan ratusan kapal selam milik negara lain, terutama China, Rusia, dan Korea Utara, yang aktif di Indo-Pasifik.

 

Meski pejabat Korea Selatan menyatakan kesiapan teknis untuk membangun kapal selam berukuran besar, tantangan utama terletak pada lokasi produksi dan alih teknologi. Trump sempat menyebut kemungkinan pembangunan dilakukan di galangan kapal Philadelphia yang baru diakuisisi perusahaan Korea Selatan, Hanwha. Namun, Seoul lebih mendorong agar produksi dilakukan di dalam negeri demi mendorong industri nasional dan transfer teknologi.

 

Para analis memperkirakan, meski telah mengantongi restu politik, Korea Selatan masih membutuhkan waktu setidaknya satu dekade sebelum benar-benar mengoperasikan kapal selam bertenaga nuklir. Proyek ini juga berpotensi memicu ketegangan baru di kawasan, terutama dari Korea Utara, serta kekhawatiran China terkait stabilitas keamanan regional.

 

Meski demikian, Seoul menilai rencana tersebut penting untuk menjaga keseimbangan kekuatan di Asia Timur. Di tengah meningkatnya ancaman bawah laut, langkah Korea Selatan berpotensi menjadi elemen kunci dalam dinamika keamanan Pasifik ke depan.

Free Download WordPress Themes
Download Premium WordPress Themes Free
Premium WordPress Themes Download
Free Download WordPress Themes
ZG93bmxvYWQgbHluZGEgY291cnNlIGZyZWU=
download samsung firmware
Free Download WordPress Themes
free online course
Tags: Kapal Selam NuklirKekuatan ASKorea SelatanMetapos.id
Desti Dwi Natasya

Desti Dwi Natasya

Related Posts

Roy Suryo Cs Soroti Absennya Jokowi dalam Sidang Pembuktian Ijazah di PN Solo

Roy Suryo Cs Soroti Absennya Jokowi dalam Sidang Pembuktian Ijazah di PN Solo

by Taufik Hidayat
5 February 2026
0

Metapos.id, Jakarta – Tim Roy Suryo bersama rekan-rekannya menyoroti ketidakhadiran pihak Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) dalam sidang pembuktian...

Pramono Nyatakan Kesiapan Jakarta Bantu Penanganan Sampah Tangsel

Pramono Nyatakan Kesiapan Jakarta Bantu Penanganan Sampah Tangsel

by Taufik Hidayat
5 February 2026
0

Metapos.id, Jakarta – Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menyampaikan komitmen Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk membantu Pemerintah Provinsi Banten dalam...

Ngabuburit, Tradisi Menunggu Waktu Berbuka yang Melekat di Bulan Ramadan

Ngabuburit, Tradisi Menunggu Waktu Berbuka yang Melekat di Bulan Ramadan

by Taufik Hidayat
5 February 2026
0

Metapos.id, Jakarta — Ngabuburit telah menjadi tradisi yang lekat dengan kehidupan masyarakat Indonesia saat bulan Ramadan. Istilah ini merujuk pada...

Pergerakan Tanah di Tegal Masih Berlanjut, Ini Penjelasan BRIN

Pergerakan Tanah di Tegal Masih Berlanjut, Ini Penjelasan BRIN

by Taufik Hidayat
5 February 2026
0

Metapos.id, Jakarta — Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengungkapkan bahwa pergerakan tanah yang terjadi di Kabupaten Tegal masih berpotensi...

Next Post
Kemlu RI Kawal Penanganan Enam WNI yang Ditahan Singapura karena Masuk Ilegal

Kemlu RI Kawal Penanganan Enam WNI yang Ditahan Singapura karena Masuk Ilegal

Recommended.

Kebangkrutan Silicon Valley Bank, Bagaimana Dampaknya ke Indonesia?

Kebangkrutan Silicon Valley Bank, Bagaimana Dampaknya ke Indonesia?

14 March 2023
Penuhi Hak Anak, WOM Finance Resmikan Ruang Ramah Anak di Jakarta Utara

Penuhi Hak Anak, WOM Finance Resmikan Ruang Ramah Anak di Jakarta Utara

30 May 2023

Trending.

Nisfu Syaban 1447 H Dimulai Senin Malam, 2 Februari 2026, Ini Jadwal Ibadah yang Dianjurkan

Puasa Nisfu Syaban 1447 H Jatuh Selasa 3 Februari 2026, Berikut Waktu Pelaksanaan dan Niatnya

2 February 2026
Heboh Isu Nia Ramadhani Gugat Cerai Ardi Bakrie

Heboh Isu Nia Ramadhani Gugat Cerai Ardi Bakrie

3 February 2026
Bintang Porno Lana Rhoades Minta 400 Video Dihapus Demi Lindungi Anak

Bintang Porno Lana Rhoades Minta 400 Video Dihapus Demi Lindungi Anak

13 November 2025
Dua Kali Janji Tunjukkan Ijazah di Pengadilan, Jokowi Malah Tak Hadiri Sidang CLS di PN Solo

Dua Kali Janji Tunjukkan Ijazah di Pengadilan, Jokowi Malah Tak Hadiri Sidang CLS di PN Solo

25 October 2025
Seorang Ibu Histeris : Saldo Nasabah BRI Hilang Ratusan Juta di Unit Laubaleng, Korban Curiga Ada Dugaan Orang Dalam

Seorang Ibu Histeris : Saldo Nasabah BRI Hilang Ratusan Juta di Unit Laubaleng, Korban Curiga Ada Dugaan Orang Dalam

12 November 2025
Metapos Media

© 2025 Media Informasi Terkini

Navigasi

  • Kontak Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

Ikuti Kami

No Result
View All Result
  • Home
  • Nasional
  • Ekbis
  • Hukum & Kriminal
  • Sport
  • Internasional
  • Lifestyle & Health
  • Tek & Oto
  • Galeri

© 2025 Media Informasi Terkini