Metapos.id, Jakarta — Anggapan bahwa setiap orang memiliki satu belahan jiwa yang sudah ditakdirkan untuknya ternyata tidak selalu membawa dampak positif dalam hubungan asmara.
Keyakinan tersebut kerap muncul dari lagu romantis, novel percintaan, hingga berbagai nasihat mengenai hubungan. Seseorang bahkan bisa menunggu tanda tertentu untuk meyakini bahwa dirinya telah menemukan pasangan yang tepat.
Namun, penelitian mengenai hubungan romantis selama sekitar dua dekade terakhir menunjukkan bahwa pola pikir tersebut justru dapat memengaruhi cara seseorang melihat pasangan dan menjalani hubungan.
“Namun, bagi kamu yang masih mencari keberadaan sosok tersebut, pencarian ini bisa jadi hanyalah misi yang keliru,” kata profesor madya di program studi Social Psychology / Relationship Science, Deakin University, Gery Karantzas, dalam tulisannya di The Conversation, dikutip dari berbagai sumber Senin (31/8/2026).
Menurut Karantzas, keyakinan terhadap adanya pasangan yang sudah ditentukan oleh takdir dikenal sebagai destiny mindset. Cara pandang ini dapat memengaruhi penilaian seseorang terhadap pasangan serta menentukan bagaimana mereka menghadapi persoalan dalam hubungan.
Terjebak Gambaran Pasangan Ideal
Salah satu persoalan yang dapat muncul adalah terbentuknya standar terlalu spesifik mengenai pasangan yang dianggap sebagai belahan jiwa.
Orang yang sangat mempercayai konsep tersebut cenderung memiliki gambaran tertentu mengenai karakter maupun penampilan pasangan ideal. Kondisi ini dapat membuat mereka melewatkan kesempatan menjalin hubungan dengan seseorang yang sebenarnya memiliki banyak kualitas positif.
Ketika menemukan orang yang tidak sepenuhnya sesuai dengan gambaran tersebut, mereka berpotensi langsung menganggap hubungan itu bukan pilihan yang tepat.
Mereka juga dapat lebih fokus pada kekurangan pasangan karena terus membandingkan kenyataan dengan sosok ideal yang ada dalam pikirannya.
Pada kondisi tertentu, seseorang bahkan bisa mengabaikan hubungan yang memiliki potensi hanya karena masih berharap menemukan sosok yang dianggap lebih sesuai dengan bayangan belahan jiwa.
Lebih Mudah Menyerah Saat Hubungan Bermasalah
Keyakinan mengenai pasangan yang ditakdirkan juga dapat memberikan rasa nyaman ketika hubungan berjalan sesuai dengan ekspektasi.
Namun, persoalan bisa muncul ketika hubungan mulai menghadapi berbagai perbedaan dan tidak lagi terlihat sempurna. Pada situasi tersebut, rasa kecewa dan ketidakpuasan dapat meningkat.
Penelitian yang dibahas Karantzas menunjukkan bahwa orang dengan keyakinan kuat terhadap takdir dalam hubungan cenderung kurang terdorong untuk melakukan berbagai upaya ketika menghadapi masalah.
Mereka dapat melihat persoalan sebagai tanda bahwa pasangan tersebut bukan orang yang tepat. Akibatnya, usaha untuk memperbaiki komunikasi dan menyelesaikan konflik berpotensi berkurang.
Alih-alih mencari solusi bersama, mereka lebih mudah menerima keadaan dan memilih mengakhiri hubungan karena menganggap pasangan yang sebenarnya sudah ditakdirkan masih berada di luar sana.







