Metapos.id, Jakarta – Garda Revolusi Iran (IRGC) menegaskan Selat Hormuz belum akan dibuka kembali sebelum Amerika Serikat memenuhi sejumlah syarat yang diajukan Teheran.
IRGC menyebut Selat Hormuz saat ini bukan sekadar jalur pelayaran strategis, tetapi telah menjadi bagian dari medan perang. Iran menyatakan penutupan selat akan dipertahankan hingga seluruh tuntutan mereka dipenuhi.
Salah satu tuntutan Iran adalah kompensasi atas kerusakan yang ditimbulkan akibat konflik. Selain itu, Teheran meminta penghentian perang dan agresi terhadap Iran serta sejumlah sekutunya di Lebanon, Palestina, Yaman, dan Irak.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan pembahasan dengan Oman terkait lalu lintas dan pengelolaan Selat Hormuz telah mendekati tahap akhir.
Namun, Araghchi menegaskan pembahasan tersebut tidak berarti Selat Hormuz akan segera dibuka. Menurutnya, pembukaan kembali jalur strategis itu masih bergantung pada pemenuhan sejumlah persyaratan yang telah disampaikan Iran melalui para perantara.
Iran juga meminta Amerika Serikat mencabut blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran, menghapus sanksi, mencairkan aset Iran yang dibekukan, serta memberikan kompensasi atas kerusakan akibat perang.
Di sisi lain, Araghchi membantah Iran sedang melakukan negosiasi langsung dengan Amerika Serikat. Ia mengatakan komunikasi antara kedua pihak hanya berlangsung melalui pertukaran pesan dengan bantuan perantara.
Pembicaraan Iran dan Oman juga membahas kemungkinan penetapan rute maritim baru di Selat Hormuz. Araghchi menyebut pembahasan tersebut bersifat teknis dan hukum, termasuk penyusunan peta rute baru.
Menurut Araghchi, rute yang selama ini digunakan akan digantikan dengan rute baru. Meski demikian, perubahan rute tersebut tidak otomatis berarti Selat Hormuz telah dibuka kembali.
Iran diketahui telah memberlakukan pembatasan ketat terhadap pelayaran di Selat Hormuz setelah serangkaian serangan Amerika Serikat dan Israel. Teheran juga disebut berencana mengenakan biaya lintas bagi kapal yang melewati jalur tersebut.
Kondisi tersebut meningkatkan ketegangan di salah satu jalur perdagangan energi paling strategis di dunia. Perkembangan situasi di Selat Hormuz juga berpotensi memengaruhi keamanan pelayaran dan distribusi energi global.







